Jumat, 17 November 2017

MENULIS; ANTARA INSPIRASI, KEMATANGAN KONSEP DAN KONSISTENSI

Sumber : Google.com

Sering kali kita merasa bingung ketika hendak menulis. Dalam benak kita bertanya-tanya "mau menulis apa ya?". Kelamaan mikir akhirnya tidak jadi menulis. Kadang pula, ketika kita sudah berusaha menulis, tapi tak sampai juga ke ujung tulisan. Dengan kata lain kita sering berhenti menulis sebelum tulisan utuh dibuat.

Setelah saya membaca dan berpikir tentang sebuah inspirasi, saya kemudian mendapat sedikit pencerahan. Ternyata, selama ini kita kebanyakan menunggu datangnya inspirasi. Padahal, inspirasi begitu banyaknya dan bertebaran di muka bumi ini. Hanya saja mungkin kita belum terlalu aktif mencari dan menemukannya sebagai bahan tulisan.
Begitu banyak hal yang bisa kita tulis dari kepingan-kepingan perjalanan hidup yang kita jalani. Tak perlu jauh-jauh, diri kita sendiri misalnya, bisa jadi bahan tulisan. Keluarga, teman, sahabat, pekerjaan, berita yang berkembang, dan masih banyak lagi bahan untuk ditulis. Apalagi di era teknologi seperti saat ini. Tidak hanya informasi di dunia nyata seperti surat kabar mainstream, juga di dunia maya yang begitu melimpah ruah. Tinggal bagaimana kreativitas kita mengolahnya menjadi tulisan menarik dan bermanfaat.
Tema apa yang menurut kita remeh temeh justru bisa jadi konten tulisan yang menarik bagi orang yang kreatif. Kita perlu mengasah kereativitas dalam menulis, sehingga tulisan kita tidak terkesan kaku, tanpa ruh dan magnit yang menyedot perhatian para pembaca. Dari itu saya mencoba secara terus menerus berusaha belajar bagaimana menghasilkan tulisan menarik dan berkualitas. Saya punya keyakinan bahwa kompetensi di bidang apapun akan cepat dikuasai dan berpeluang menjadi expert jika jam terbang di bidang itu tinggi, artinya pekerjaan itu sering dan berulang kali kita lakukan. Termasuk kompetensi dalam menulis.
Kemudian, kembali sedikit saya singgung tentang masalah tulisan yang gagal jadi alias berhenti di tengah jalan. Penyebab utama masalah ini menurut saya adalah belum lengkap dan detilnya konsep di otak kita. Tentunya konsep yang terkait dengan topik yang akan ditulis. Sehingga wajar kemudian gagasan yang dituangkan dalam bentuk tulisan hanya sepotong. Itulah sebabnya mengapa kemudian kita perlu mematangkan konsep di otak sebelum menuliskannya. Begitu kira-kira.
Tapi apa pun teorinya, hanya intensitas menulis yang tinggilah yang akan berhasil menjadikan kita penulis. Karena sejatinya jika kita hanya berpikir tanpa berbuat, maka tak ubahnya seperti hanya melamun dan berangan-angan belaka. Bruce Lee pernah berkata "Aku tak takut dengan seribu jenis tendangan yang dilatih hanya satu kali, tapi aku hanya takut dengan satu jenis tendangan yang dilatih seribu kali". Apa maknanya? Jika kita sudah berkomitmen menjadi penulis mari kita tekuni dan hadapi segala resikonya. Menulis dan tekuni, tak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menekuni kompetensi yang lain sebelum kompetensi menulis benar-benar dikuasai. Ada semacam adegium tentang pendidikan di negara kita "pendidikan di negara maju menghasilkan orang-orang yang tau banyak tentang hal yang sedikit, sementara di negara kita pendidikan hanya menghasilkan orang-orang yang tau sedikit tentang hal yang banyak". Artinya kita perlu menciptakan expert-expert yang punya kompetensi mendalam yang bukan hanya tau serba sedikit. Termasuk expert dalam hal menulis.
Demikian kira-kira coretan yang bisa saya suguhkan di pagi yang agak mendung ini. Semoga bermanfaat. Korleko, 17 November 2017. --HH

Rabu, 15 November 2017

KEDEWASAAN DALAM BERPOLITIK

Sumber : Google.com

Akhir-akhir ini saya intens mengikuti perkembangan politik di desa saya, yakni Desa Korleko. Maklum, suhu politik pilkades sudah mulai agak menghangat. Letupan-letupan konflik sudah mulai terdengar di sana sini, meski intensitasnya masih kecil. Hal ini wajar, mengingat setiap calon kepala desa bersama dengan tim nya sedang berusaha sekuat tenaga agar dapat meraih simpati masyarakat pemilih. Meski belum ada bukti konkrit yang saya temukan, isu money politic sudah santer terdengar. Ini jelas menodai demokrasi kita yang sudah bersusah payah dibangun oleh para pendiri bangsa dengan menekankan pada pelaksanaan demokrasi yang bersih.
Fenomena terpolarisasinya masyarakat pada kelompok-kelompok calon kepala desa yang mereka dukung menimbulkan hal lain yang tak kalah penting. Apa itu? Semakin menguatnya soliditas masyarakat pada satu kelompok, dan merenggangkan hubungan dengan kelompok lainnya di satu sisi.Misalnya saja, saya mendengar cerita dari seorang warga bahwa ia memiliki sepupu yang rumahnya tepat berada di depan rumah warga tersebut. Pernah suatu ketika mereka berdua hendak sama-sama keluar dari rumah mereka masing-masing. Terpolarisasinya masyarakat pada kelompok-kelompok calon kepala desa yang mereka dukung menimbulkan hal lain yang tak kalah penting. Apa itu? Semakin menguatnya soliditas masyarakat pada satu kelompok, dan merenggangkan hubungan dengan kelompok lainnya di satu sisi. Misalnya saja, saya mendengar cerita dari seorang warga bahwa ia memiliki sepupu yang rumahnya tepat berada di depan rumah warga tersebut. Pernah suatu ketika mereka berdua hendak sama-sama keluar dari rumah mereka masing-masing.
Tersebab pilihan calon kades yang berbeda, mereka keluar gerbang rumah dengan saling membelakangi, saling memunggungu satu dengan yang lain. Jangankan saling tegur sapa, sepotong senyum pun tak ada. Misalnya saja, saya mendengar cerita dari seorang warga bahwa ia memiliki sepupu yang rumahnya tepat berada di depan rumah warga tersebut. Pernah suatu ketika mereka berdua hendak sama-sama keluar dari rumah mereka masing-masing. Tersebab pilihan calon kades yang berbeda, mereka keluar gerbang rumah dengan saling membelakangi, saling memunggungu satu dengan yang lain. Jangankan saling tegur sapa, sepotong senyum pun tak ada. Semula, senyum sapa dan interaksi positif antar tetangga terjalin cukup baik. Namun ketika pesta demokrasi (pilkades) sudah dimulai, maka tak jarang sesama tetangga, bahkan antar keluarga ada yang tak mau saling tegur sapa, mengingat pilihan calon kades yang berbeda. Pilihan calon kades yang berbeda, mereka keluar gerbang rumah dengan saling membelakangi, saling memunggungu satu dengan yang lain. Jangankan saling tegur sapa, sepotong senyum pun tak ada. Misalnya saja, saya mendengar cerita dari seorang warga bahwa ia memiliki sepupu yang rumahnya tepat berada di depan rumah warga tersebut. Pernah suatu ketika mereka berdua hendak sama-sama keluar dari rumah mereka masing-masing. Tersebab pilihan calon kades yang berbeda, mereka keluar gerbang rumah dengan saling membelakangi, saling memunggungu satu dengan yang lain. Jangankan saling tegur sapa, sepotong senyum pun tak ada. Semula, senyum sapa dan interaksi positif antar tetangga terjalin cukup baik. Namun ketika pesta demokrasi (pilkades) sudah dimulai, maka tak jarang sesama tetangga, bahkan antar keluarga ada yang tak mau saling tegur sapa, mengingat pilihan calon kades yang berbeda.
Mungkin tak tepat jika saya terlalu prematur membuat sebuah kesimpulan. Mengingat data

dan informasi yang saya peroleh masih sangat terbatas. Informasi yang telah saya peroleh pun perlu divalidasi agar terbukti kuat kebenarannya. Namun paling tidak kita bisa mengambil sebuah pembelajaran berharga dari fenomena tersebut. Tak hanya kejadian sederhana seperti itu. Percekcokan antar warga juga sering terjadi. Perdebatan akibat mengunggulkan calon masing-masing juga menjadi penyebab pertengkaran serius dan dendam berkepanjangan. Fenomena ini tak hanya terjadi di dunia nyata, bahkan sering juga terjadi di dunia maya melalui media sosial. Tak tepat jika saya terlalu prematur membuat sebuah kesimpulan. Mengingat data dan informasi yang saya peroleh masih sangat terbatas. Informasi yang telah saya peroleh pun perlu divalidasi agar terbukti kuat kebenarannya. Namun paling tidak kita bisa mengambil sebuah pembelajaran berharga dari fenomena tersebut. Tak hanya kejadian sederhana seperti itu. Percekcokan antar warga juga sering terjadi. Perdebatan akibat mengunggulkan calon masing-masing juga menjadi penyebab pertengkaran serius dan dendam berkepanjangan. Fenomena ini tak hanya terjadi di dunia nyata, bahkan sering juga terjadi di dunia maya melalui media sosial.
Perdebatan demi perdebatan, pertengkaran demi pertengkaran masih terus saja terjadi. Hal yang sepatutnya kita tanamkan dalam diri kita masing-masing adalah sikap terbuka (open mind) dengan segala macam perbedaan. Hindari panatisme politik secara berlebihan. Tanamkan sikap persaudaraan dengan kuat. Lawan politik berbeda dengan musuh politik. Bukan permusuhan yang hendak dibangun, melainkan persaingan yang sehat. Demokrasi yang bersih. Tujuan yang mulia demi kesejahteraan, keamanan, dan kemajuan kita bersama. Tanpa ada lagi gesekan-gesekan yang kemudian menjadi pemicu perpecahan bangsa. Lalu apa pelajaran berharganya? Tentunya dari fenomena tersebut kita tersadar dan
sedikit tidak fenomena tersebut telah menggambarkan bahwa kita masih belum dewasa dalam berpolitik. Demi perdebatan, pertengkaran demi pertengkaran masih terus saja terjadi. Hal yang sepatutnya kita tanamkan dalam diri kita masing-masing adalah sikap terbuka (open mind) dengan segala macam perbedaan. Hindari panatisme politik secara berlebihan. Tanamkan sikap persaudaraan dengan kuat. Lawan politik berbeda dengan musuh politik. Bukan permusuhan yang hendak dibangun, melainkan persaingan yang sehat. Demokrasi yang bersih. Tujuan yang mulia demi kesejahteraan, keamanan, dan kemajuan kita bersama. Tanpa ada lagi gesekan-gesekan yang kemudian menjadi pemicu perpecahan bangsa. Lalu apa pelajaran berharganya? Tentunya dari fenomena tersebut kita tersadar dan sedikit tidak fenomena tersebut telah menggambarkan bahwa kita masih belum dewasa dalam berpolitik.
Keterlibatan kita dalam peristiwa politik ini masih kekanak-kanakan. Kita belum bisa memaknai demokrasi yang sejati. Kita masih perlu belajar banyak tentang kedewasaan berpolitik. Jangan sampai peristiwa politik semakin memecah belah kita, bahkan semakin mengacaukan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Lalu bagaimana memulai belajar dewasa dalam berpolitik? Tentunya harus dimulai dari hal terkecil, mulai dari diri sendiri dan harus dimulai saat ini juga. Dan bagaimana hasilnya ke depan, itu semua bergantung kepada upaya perubahan yang kita lakukan masing-masing. Kita dalam peristiwa politik ini masih kekanak-kanakan. Kita belum bisa memaknai demokrasi yang sejati. Kita masih perlu belajar banyak tentang kedewasaan berpolitik. Jangan sampai peristiwa politik semakin memecah belah kita, bahkan semakin mengacaukan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Lalu bagaimana memulai belajar dewasa dalam berpolitik? Tentunya harus dimulai dari hal terkecil, mulai dari diri sendiri dan harus dimulai saat ini juga. Dan bagaimana hasilnya ke depan, itu semua bergantung kepada upaya perubahan yang kita lakukan masing-masing.
Korleko, 13 November 2017

Rabu, 08 November 2017

SUDAHKAH KITA MEMBACA HARI INI ?

Sumber : Google.com
Oleh : Hasrul Hadi Di suatu kesempatan, seorang anak kecil tak sengaja menginjak lembaran koran yang terlihat lusuh. Kemudan bapaknya menegur dengan serius. "Nak, kamu sudah baca habis belum lembaran koran yang kau injak, sudah faham belum apa isinya? Jangan pernah kau menjadi sombong, dengan sesuatu yang terlihat remeh temeh." Dada anak kecil itu bergetar. Ia kaget. Sesuatu yang dianggapnya biasa saja ternyata ditanggapi serius oleh bapaknya. Ia pun tersadar akan kekurangan dirinya selama ini dalam membaca. Ia kemudian memungut lembaran koran yang lusuh itu dan membacanya hingga tuntas, tanpa satu huruf pun terlewatkan. Sejak saat itu, ia bertekad dimanapun ia berada, kemanapun ia pergi, ia akan selalu ditemani oleh buku. Membaca menjadi suatu hal yang akrab dan lekat dengan dirinya. Siapakah anak kecil itu??? Anak kecil itu adalah TGH Hasanain Juaini. Pimpinan Ponpes Nurul Haramain Narmada. Sekjen PBNW Pancor. Penghargaan kelas dunia pun pernah diraihnya, Ramon Magsasay, Ashoka Award, Ma'arif institut, kalpataru, dan berbagai penghargaan lain pernah diperolehnya. Saya sungguh terinspirasi dengan beliau. Baik soal perjuangan lingkungannya, maupun keistiqomahan dalam membaca. Semoga kisah ini menginspirasi kita semua. Lalu kita bagaimana? Sudahkah kita membaca hari ini..!!! Korleko, 8 November 2017

Selasa, 31 Oktober 2017

FOR MY BELOVED HASNA ELFARIZA

Sumber: Dokumen Penulis
Oleh : Hasrul Hadi Anakku tersayang Hasna Elfariza. Entah kapan engkau bisa membaca tulisan ini. Bapak mu ini hanya ingin kau tau, betapa bahagianya kami atas kehadiranmu. Tepat setahun yang lalu, 31 Oktober 2016 engkau terlahir di dunia ini. Kami menyambutmu dengan penuh kebahagiaan. Status kami pun berganti. Menjadi seorang ibu dan bapak. Tangis pertamamu adalah bahagia kami. Dengan penuh rasa syukur kami berterimakasih kepada Allah Swt atas kehadiranmu. Pertama kali kau lahir perasaan bapak mu ini bercampur aduk. Di satu sisi bahagia dan terharu dengan kelahiranmu, di sisi lain khawatir, gelisah dan cemas atas kondisi ibumu yang lemah setelah mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkanmu. Syukurnya Allah Swt benar-benar mengabulkan segala doa yang terlontar dari bibir ini. Kondisi benar-benar membaik. Pada masa awal fase pertumbuhanmu, kami harus banyak belajar bagaimana merawatmu. Berbagi tugas siang dan malam. Menenangkan mu di kala engkau menangis. Kami harus rela bangun dan terjaga di tengah malam hanya untuk sekedar memberikan kondisi ternyaman buatmu. Itu semua demi kecintaan kami padamu. Mungkin ini pula yang dilakukan orang tua lainnya demi anak mereka tercinta. Seiring berjalannya waktu, engkau bertumbuh menjadi anak yang sehat, aktif, lucu dan menggemaskan. Rasanya semua beban, susah dan sedih seakan sirna ketika melihat canda tawa mu. Tingkah laku mu yang menggemaskan membuat kami tak bisa melukiskan dengan kata-kata betapa kami sangat bahagia. Engkau tumbuh semakin besar. Perkembangan mentalmu pun demikian. Perubahan demi perubahan mulai terlihat. Dari mulai bisa duduk, merangkak sampai berdiri dan mulai belajar berjalan. Kata-kata yang terlontar dalam mulutmu juga sering membuat kami tersenyum dan tertawa. Kami benar-benar menikmati kebersamaan denganmu. Anakku sayang Hasna Elfariza. Sehatmu adalah bahagia kami dan sakitmu adalah tentang kecemasan dan kesedihan kami. Tak ingin sedikitpun orang tua rela jika anaknya sakit. Begitu juga dengan kami. Sepertinya jika bisa, kami hanya ingin melihatmu tumbuh dengan sehat saja. Tapi kami juga sadar selain kehendak kami sebagai orang tua mu, ada kehendak lain yang perlu kita sadari, yakni kehendak Allah Swt. Maka kami pun terus berikhtiar menjaga kesehatan mu dan memasrahkan semuanya kepada-Nya. Doa kami tak henti-hentinya mengalir untuk mu. Kami selalu berdoa agar kelak engkau menjadi anak sholihah, berbakti kepada orang tua, sehat, cerdas dan berguna bagi agama nusa dan bangsa. Menjadi kebanggan keluarga. Menjadi penerang atas kegelapan kehidupan. Menjadi seseorang yang kehadirannya selalu dinantikan. Menjadi seseorang yang keberadaannya menjadi alasan atas kebahagiaan orang lain. Anak ku sayang Hasna Elfariza. Selamat hari jadi yang pertama. Ini tahun pertama engkau menjalani hidup di muka bumi ini. Masih ada masa depan yang akan kau jalani. Semoga panjang umur dan berkah. Semoga Allah Swt selalu nelindungi mu. Kami mencintaimu. Dari orang tua mu yang selalu menyayangi dan mencintai mu, Hasrul Hadi dan Siti Nawali Rahmatullah Korleko, 31 Oktober 2017.

PAK TANI, RIWAYATMU KINI

Sumber : Google.com
Oleh : Hasrul Hadi Dua malam yang lalu sebelum datang waktu shalat isya, seorang warga datang ke rumah. Kedatangannya untuk mesilak (mengundang) saya pada acara pernikahan salah seorang warga. Usai shalat isya saya pun langsung bergegas menuju lokasi acara. Sesampai di sana sudah terlihat cukup banyak tamu undangan yang duduk bersila, mereka masih menunggu tamu undangan yang lain sambil ngobrol antara satu dengan yang lain. Semua tamu undangan adalah bapak-bapak. Beberapa di antaranya adalah tokoh agama dan tokoh masyarakat yang tempat duduknya dipersiapkan khusus oleh tuan rumah. Selain tokoh agama dan tokoh masyarakat, sebagian besar tamu undangan adalah masyarakat biasa yang kebanyakan dari mereka adalah para petani. Beberapa tamu undangan dan seorang tamu dari kalangan tokoh agama belum juga datang. Para tamu undangan yang lain masih sabar menunggu termasuk saya, sebelum akhirnya prosesi akad nikah dimulai. Di sela-sela waktu menunggu, saya manfaatkan untuk bercengkrama. Khususnya dengan tamu undangan yang sebagian besarnya adalah petani. Kami bertukar pikiran, dan sebagian besar waktu saya gunakan untuk mendengar cerita mereka. Terlihat dari raut wajah mereka bagaimana beratnya menjadi petani dengan hasil yang tidak sebanding. Salah seorang petani memulai ceritanya tentang mahalnya biaya pengolahan lahan sawah mereka. Mulai dari membajak, mengairi, membeli bibit, membeli pupuk, beli obat, beli mulsa dan upah buruh. Belum lagi mereka harus siap merawat dan mengontrol sendiri tanaman mereka dari serangan hama dan gulma setiap harinya. Perjuangan untuk memperoleh hasil yang maksimal memang tidak mudah. Mereka harus rela berkorban biaya, tenaga dan pikiran. Tak jarang gara-gara masalah air irigasi para petani terlibat konflik serius dengan sesama petani lainnya. Ini juga menimbulkan masalah tersendiri bagi mereka. Tidak cukup hanya menghadapi masalah selama proses pengolahan lahan dan merawat tanaman, petani juga dihadapkan dengan masalah rendahnya harga jual hasil panen. Sebagai contoh saja, harga cabai hanya tujuh ribu rupiah per kilogram. Itu belum termasuk ongkos buruh memetiknya. Lahan tempat menanam pun terbilang sempit, hanya beberapa are. Harga hasil panen anjlok. Bagaimana mungkin petani tidak pusing, setelah berdarah-darah mengurus tanamannya mereka harus menelan pil pahit atas kerugian yang mereka alami. Tapi kita perlu berikan apresiasi kepada para petani. Meski sering mengalami kerugian akibat rendahnya harga jual hasil panen--belum lagi adanya potensi gagal panen--para petani masih tetap bersabar. Saya sempat melontarkan pertanyaan. "apa bapak tidak kapok bertani?" lantas ia menjawab "ya tidak lah, ini memang pekerjaan saya, untung rugi itu biasa, paling tidak hasil panen bisa dinikmati oleh keluarga kalau tidak dijual. Bertani sudah menjadi pilihan hidup." Semangatnya perlu kita apresiasi. Tapi kepedulian dan perhatian semua pihak tetap diperlukan untuk memperbaiki nasib mereka. Mangapa demikian? Alasannya jelas, setiap orang indonesia makan beras, makan sayur, butuh bumbu, butuh buah dan produk pertanian lainnya yang penanamnya adalah petani. Oleh karena itu peran petani jelaslah sangat penting. Saya hanya bisa berdoa bagi mereka saat ini. Mudah-mudahan nasib baik bisa menghampiri mereka. Sehingga ke depan tak ada lagi cerita miris dari para petani kita. Tak ada lagi raut wajah sedih petani kita. Yang ada hanyalah senyum bahagia, bersahaja penuh keramahan sebagai ciri khas bangsa kita. Maju terus petani Indonesia. Selamat Menulis, #BeActiveWriter Korleko, 28 Oktober 2017 --HH

MENULIS; ANTARA MIND MAPING DAN FREE WRITING

Sumber: Google.com
Oleh : Hasrul Hadi Tulisan ini bukan hendak bermaksud mengadu dua teknik menulis. Mengunggulkan satu teknik dan melemahkan teknik yang lain. Mungkin, dua metode ini sudah banyak dibahas, terutama oleh penulis-penulis mapan. Tapi tak ada salahnya berbagi sedikit apa yang pernah saya ketahui dan alami. Siapa tahu bermanfaat. Paling tidak saya sudah berusaha mengabadikan tulisan ini sebagai pengingat dan nasihat bagi diri sendiri. Kita mulai dari Teknik "Mind Map" dalam menulis. Mind Map yang berarti peta pikiran pertama kali dikenalkan oleh Tony Buzan untuk membantu mempermudah proses menulis. Sebenarnya mind map tidak hanya untuk mempermudah keterampilan menulis semata, tapi juga dapat dikembangkan untuk mengasah keterampilan berbicara di hadapan publik (public speaking), dan sebagainya. Mind map, merupakan sebuah rancangan dasar, sebelum pada akhirnya dilakukan pengembangan draf tulisan. Biasanya gagasan utama digambar secara visual di bagian tengah kertas. Kemudian dilanjutkan dengan membuat bagian-bagian atau sub tema dari tema utama yang telah dibuat tersebut. Dibuat mebarik secara visual. Dari sub tema-sub tema tersebut berkembang lagi menjadi sub sub tema yang lebih detil dan lebih rinci. Untuk lebih jelasnya baca buku Tony Buzan (Mind Map) atau buku Quantum Learning yang telah dikembangkan oleh Bobby dePorter. Ketika proses penyusunan mind map selesai maka tibalah saatnya mengembangkan draf tulisan. Dengan adanya acuan menulis berupa sebuah kerangka dalam bentuk mind map yang menarik, maka akan mempermudah dalam proses penulisan. Pikiran yang sebelumnya tersendat, bisa jadi semakin lancar dan tentunya berdampak pada kelancaran proses penulisan. Ketika proses penulisan semakin meluas ke mana-mana maka mind map akan berperan sebagai komando dalam mengarahkan tulisan on the track. Tulisan yang dibuat akan menjadi lebih fokus dan terarah. Kontras dan cukup berbeda dengan teknik mind map, teknik freewriting mengajak kita menulis tanpa kerangka. Menulislah bebas sesukanya tanpa tersendat. Tanpa takut salah. Tanpa terikat aturan kaidah penulisan yang berlaku pada umumnya. Teknik ini lebih menekankan pada upaya mengalirkan pikiran dalam bentuk tulisan. Fokusnya bukan pada benar salahnya tulisan. Tapi fokus pada lancarnya pikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Otak manusia terdiri dari otak kiri dan otak kanan. Otak kanan lebih bersifat imajinatif, sementara otak kiri bersifat rasional kritis. Menulis dengan teknik freewriting lebih mendahulukan penggunaan otak kanan dibanding otak kiri. Otak kanan lebih "liar" mengalirkan gagasan. Sementara otak kiri berperan sebagai "editor" manakala proses freewriting selesai dilakukan. Ini mengingat sifatnya yang kritis memindai kata-kalimat-paragraf mana yang salah secara kaidah penulisan maupun konteks dan konten tulisan. Kedua teknik tersebut tentu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bagi saya ke dua teknik tersebut sangat penting dalam menulis. Keduanya sangat mempermudah saya dalam menulis. Baik tulisan yang bersifat ilmiah maupun tulisan populer. Mau pilih satu di antara dua silahkan. Pilih dua-duanya juga silahkan. Akhirnya semua itu kembali kepada kita masing-masing. Menulis dengan salah satu teknik itu, bagus. Menulis dengan ke dua teknik itu juga bagus. Yang kurang bagus adalah yang tidak menulis sama sekali. Semoga bermanfaat. Selamat menulis, #BeActiveWriter Korleko, 24 Oktober 2017

BUDAYA COPY-PASTE DAN PRODUKTIVITAS MENULIS KITA

Oleh : Hasrul Hadi Kemajuan teknologi komunikasi seperti saat ini mengelompokkan manusia pada dua kutub yang berbeda. Khususnya terkait dengan produktivitas menulis. Di kutub pertama ada orang-orang yang produktif menulis dan di kutub lainnya terdapat pula orang-orang yang tidak produktif. Ada yang hanya sebagai penikmat tulisan saja. Dan yang lebih parah lagi ada pula orang-orang yang bukan penulis dan bukan penikmat tulisan. Pada kutub pertama, terdapat kelompok yang produktif menulis. Intensitas menulisnya sangat tinggi. Tentunya dengan berbagai alasan mereka masing-masing. Ada yang beralasan menulis untuk menebar kebaikan dan ibadah. Ada pula yang ingin nenyebarluaskan ilmu pengetahuan dan gagasannya melalui tulisan. Menulis karena pesanan (politik, ekonomi, popularitas), serta berbagai alasan menulis lainnya. Saya ingin menyoroti ramainya berbagai tema tulisan yang beredar di media sosial. Khususnya di Facebook dan grup-grup Whatsapp (karena saya aktif di dua medsos tersebut). Sering kali saya menemukan tulisan-tulisan cukup panjang. Baik tentang keberhasilan, pengalaman hidup, sebuah gagasan dan pemikiran, motivasi, dan berbagai jenis tulisan lainnya yang tentunya bernuansa positif. Tidak hanya dari satu orang, bahkan satu tulisan yang sama titik komanya pernah saya baca dari postingan tiga orang yang berbeda. Dan tidak hanya tulisan itu, pada tulisan lainnya juga pernah terjadi demikian. Saya berpikir, ini ada masalah dengan budaya tulis-menulis kita. Kita pada akhirnya menjumpai orang-orang yang berada di kutub satunya lagi. Yakni, kutub di mana terdapat kelompok orang yang pekerjaannya membaca hasil tulisan orang lain (bahkan hanya judulnya saja) kemudian membagikannya ke berbagai grup FB dan WA serta tak jarang pula langsung diposting sebagai status. Kebiasaan berbagi tulisan yang positif ini tidak selamanya salah. Bahkan baik bagi orang lain yang dapat memetik manfaat dari tulisan itu. Tapi sadarkah kita, bahwa secara tidak langsung kita menumpulkan bahkan mematikan produktivitas menulis diri kita sendiri. Kita terlalu disibukkan dengan membaca dan membagikan tulisan orang lain. Dan kita lupa bahkan semakin tidak percaya diri dengan tulisan kita sendiri. Karena secara tidak langsung, alam bawah sadar kita memaksa kita menyanjung tulisan orang lain dan minder dengan tulisan sendiri. Maka tak heran kita lebih percaya diri membagikan tulisan orang lain daripada tulisan sendiri. Jika sudah tertancap kuat keinginan menjadi penulis, maka sebaiknya kita belajar percaya diri dengan tulisan kita sendiri. Kita penuhi linimasa dan grup-grup media sosial kita dengan karya tulis kita sendiri. Tebarkan manfaat sebanyak mungkin. Khairunnas Anfauhum Linnas. Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lainnya (Alhadits). Akhirnya kembali kepada diri kita masing-masing. Kita mau berubah menjadi penulis produktif, atau masih terus memelihara hobi copy and paste tulisan orang lain. Tulisan orang lain viral dan menebar manfaat. Sementara kita belum menulis satupun tulisan. Semoga ini menyemangati kita semua. Selamat menulis, #BeActiveWriter Korleko, 23 Oktober 2017 --HH