Rabu, 04 Agustus 2021

CATATAN TENTANG FENOMENA COVID-19

Hampir semua sektor kehidupan terkena dampak pandemi Covid-19. Sektor ekonomi, kesehatan, sosial, politik juga sektor pendidikan tak luput terkena dampak. Pemerintah mengeluarkan peraturan PPKM (Program Pembatasan Kegiatan Masyarakat), yang dalam pelaksanaannya membatasi seluruh kegiatan masyarakat untuk berinteraksi dan berkerumun secara langsung. Hal ini tentu sangat memberatkan bagi sebagian masyarakat, khususnya masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada pendapatan harian. Kondisi masyarakat yang dibatasi aktivitasnya menyebabkan mereka kekurangan pembeli atas apa yang dijajakan. belum lagi terbatasnya teknis berjualan terutama pedagang makanan yang tidak diperbolehkan menerima pelanggan yang makan di tempat. Sehingga jika ada pembeli makanan, mereka harus membungkusnya dan dibawa pulang ke rumah masing-masing.

Selain masalah yang dihadapi oleh para pedagang kaki lima yang dibatasi ruang geraknya, masalah juga muncul bagi kalangan pekerja dan pelajar yang kegiatannya dibatasi untuk belajar atau bekerja dari rumah. sudah hampir dua tahun pandemi ini berlangsung, sehingga mau tidak mau kegiatan belajar dan bekerja banyak dilakukan di rumah dengan komunikasi menggunakan aplikasi zoom meeting, google meet, whatsapp, dan lainnya. Mereka hampir setiap hari bekerja dan belajar dengan menatap layar leptop maupun smartphone nya. Keadaan ini lambat laun menimbulkan perasaan bosan. Semangat belajar dan bekerja ikut menurun, sehingga bisa dikatakan produktivitas menjadi berkurang pula.

Kebosanan ini kemudian berlanjut dengan upaya melarikan diri dari keadaan. Tidak sedikit masyarakat yang sudah lelah dan bosan dengan keadaan ini pergi keluar dari rumahnya untuk menghilangkan penat. Ada yang berkunjung ke tempat-tempat wisata seperti pantai, gunung, bahkan ada yang berkumpul dan berkerumun mengunjungi tempat-tempat publik di perkotaan seperti taman maupun tempat-tempat lain untuk berinteraksi dengan teman-teman mereka.

Apa yang terjadi kemudian? kita bisa melihat peristiwa yang cukup mengerikan pasca masuknya virus korona di Indonesia, khususnya varian delta yang berasal dari India. Tingkat penyebaran virus varian ini diketahui lebih cepat. Apalagi diperparah dengan semakin lemahnya tingkat kesadaran masyarakat yang meremehkan protokol kesehatan dengan mengabaikan menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menjaga imunitas badan. Akhirnya Indonesia mengalami apa yang disebut kasus Covid-19 gelombang ke dua.

Pada kasus Covid-19 gelombang ke dua ini bisa dikatakan cukup mengkhawatirkan. Hal ini dikarenakan kasusnya yang terus melonjak tinggi sehingga rumah sakit dan tenaga kesehatan yang jumlahanya terbatas menjadi sangat kewalahan. Rumah sakit penuh. Para pasien berjejer di halaman-halaman rumah sakit dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Suara sirine ambulan terdengar di mana-mana. Sempat terjadi kelangkaan oksigen untuk membantu pernapasan para pasien positif yang membutuhkan. Dan tentu saja banyak kematian pasien yang tidak bisa dihindarkan mengingat ketidakmampuan fasilitas rumah sakit maupun tenaga kesehatan dalam melayani. Meski tidak sama tingkat keparahan kasusnya, peristiwa di negara kita ini hampir mirip dengan yang terjadi di India.

Kesadaran Kita

Berdasarkan peristiwa yang terjadi itu, semestinya kita harus banyak merenung. Banyak introspeksi terhadap apa yang kita lakukan selama ini. Terutama bagi kita yang menyepelekan dan mengabaikan protokol kesehatan. Bahaya Covid-19 ini nyata dan sudah banyak merenggut nyawa. Tidak sedikit orang-orang yang telah meninggal karena kasus Covid-19 tersebut merupakan tokoh atau seseorang yang kita kenal. Tokoh pemerintah, tokoh agama, bahkan ada juga mungkin sanak saudara dan bagian dari keluarga kita. Peristiwa ini seharusnya menyadarkan kita berasama.

Pemerintah mungkin tidak sempurna dan belum siap sepenuhnya menangani pandemi ini. Akan tetapi upaya-upaya yang dilakukan pemerintah sudah mengarah pada upaya mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh Covid-19 ini. Anjuran menerapkan protokol kesehatan, vaksinasi dan bantuan sosial merupakan contoh kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Namun jika dilihat faktanya di lapangan ke tiga kebijakan tersebut menemukan masalahnya sendiri-sendiri. Masalah protokol kesehatan misalnya, masih banyak masyarakat yang abai dan tidak mematuhi protokol kesehatan, masih banyak yang tidak menggunakan masker, banyak yang malas mencuci tangan dengan sabun, banyak pula yang tidak menjaga jarak dan berkerumun. Vaksinasi juga tidak luput dari masalah. Target vaksin 70% masyarakat indonesia sepertinya sulit tercapai mengingat menurut hasil survei LIPI sekitar 45% masyarakat tidak percaya dengan vaksin, sehingga jumlah masyarakat yang sudah diberikan vaksin saat ini masih hanya 6%. Bantuan sosial juga menemukan masalahnya sendiri, selain tidak tepat sasaran bansos juga dikorupsi oleh mentri sosial. Peristiwa-peristiwa tersebut tentu membuat hati kita semakin miris dan tentu saja akan memperlambat keberhasilan penanganan Covid-19 di negara kita ini. Semoga ini menjadi pelajaran berharga untuk kita agar kita semakin sadar dan berupaya sebaik mungkin dan semampu kita mengurangi risiko bencana non alam pandemi Covid-19 ini.

Bagik Longgek, 05 Agustus 2021




Rabu, 31 Maret 2021

JAGA ANGOTA KELUARGA DARI PAPARAN PAHAM RADIKALISME

Awalnya saya tau informasi ini dari postingan Deddy Korbuzier di akun Youtubenya. Dalam video singkat yang diunggahnya, ia menjelaskan bahea telah terjadi aksi penembakan seseorang tak dikenal di lingkungan kantor mabes Polri di Jakarta. Deddy mengungkapkan betapa bodohnya aksi terorisme yang dilakukan itu. Alasannya, jenis senjata yang digunakan adalah sejenis senjata angin (air soft gun) yang tentunya tidak mematikan jika digunakan untuk menembak orang. Ia memperlihatkan sekilas foto seseorang yang diduga teroris tersebut sudah dalam keadaan tergeletak dan tak bernyawa dengan map kuning dan pistol yang terjatuh di dekatnya.

Saya kemudian menghentikan video Deddy dan beralih mencari informasi lebih detail tentang kasus tersebut. Saya kemudian menemukan berita dan video amatir yang menayangkan pergerakan pelaku beberapa saat sebelum akhirnya roboh akibat ditembus peluru aparat. 

Dalam video amatir yang beredar terlihat seorang perempuan mengenakan gamis, hijab dan masker berwarna hitam. Terlihat seuah map warna kuning ada didekapan tangannya sebelah kiri. Sementara tangan kanannya memegang senjata tembak berupa pistol yang diarahkan dan ditembakkan ke segala penjuru. Beberapa kali terdengar suara tembakan. Hal ini kemudian mengundang reaksi cepat dari pihak aparat kepolisian. Tak perlu waktu lama, dalam hitungan menit, pelaku berhasil dilumpuhkan dengan tembakan. Pelaku yang terkena tembakan langsung roboh dan tergeletak di halaman kantor Mabes Polri tersebut.

Beberapa mesia online memberitakan bahwa dalam waktu singkat pihak aparat kepolisian berhasil mengidentifikasi pelaku. Pihak berwenang langsung menggedah rumah pelaku dan memawa orang tua pelaku untuk dimintai keterangan. Ditemukan pula surat wasiat dari pelaku serta ucapan pamit di grup whatsapp. Selain itu pada postingan akun instagram pelaku ditemukan konten-konten yang sangat berkaitan erat dengan kelompok radikal teroris internasional ISIS.

Dalam surat wasiat yang ditulis pelaku dalam selembar kertas ia menyampaikan permohonan maafnya kepada seluruh keluarganya. Ia juga memberikan beberapa nasihat terutama agar menghindari bekerjasa dengan pemerintah yang disebutnya sebagai thagut. Dalam suratnya tersebut juga secara jelas disebutkan betapa anti dan bencinya ia tentang sistem demokrasi dan pancasila yang dianggapnya bertentangan dengan Alquran dan As sunnah. Hal itu ditekankan betul pada surat warisan tersebut kepada seluruh keluarganya.

Menurut hasil analisis dari pihak kepolisian tindakan terorisme yang dilakukan tidaklah terorganisir. Tapi bergerak sendri atau dikenal dengan istilah single wolf alone. Menurut keterangan tetangga pelaku dikabarkan bahwa keseharian pelaku cenderung menyendiri di rumah dan cenderung tertutup dan kurang bergaul. 

Pelajaran Berharga Bagi Kita

Pelaku penrmbakan di kantor mabes polri ini terbilang masih muda. Ia kelahiran 1995 yang berarti usuanya sekitar 25 tahun. Apa artinya semua ini? Bisa jadi ia menyelami sendiri informasi kemudian berkenalan dengan orang-orang berpikiran radikal yang kemudian mencuci otaknya (brain wash) sehingga ia mau dan berani malakukan tindakan radikal itu. 

Tentu peristiwa ini membuat kita miris. Karena kejadian ini hanya berselang beberapa hari setelah ledakan bom di salah satu gereja di kota Makasar Sulawesi Selatan. Tentu kita bertanya-tanya bagaimana peran orang tuanya dalam memantau perkembangan anaknya. Tidak adakah yang curiga dan menaruh rasa penasaran dengan kecenderungannya yang bersikap tertutup?

Kita mendapatkan pembelajaran berharga dari peristiwa ini untuk lebih serius memantau perkembangan seluruh anggota keluarga kita masing-masing. Kita patut bertanya dan berbicara serius jika menemukan gejala-gejala yang memungkinkan mereka terjerumus dan terpapar dalam dunia radikalisme. 

Kita perlu menyelami seperti apa pemikirannya, bagaimana sudut pandangnya, apa bacaan dan tontonannya, siapa tokoh idolanya dan sebagainya. Jika tidak maka bisa jadi kita hanya akan mendapatkan penyesalan semata. Dari peristiwa ini kita tersadarkan bahwa tidak selamanya menutup diri itu baik dan tidak selamanya banyak bergaul itu jahat. Itu semua tergantung bagaimana kita mengendalikannya. 

Keluarga memang menduduki peran utama dalam pendidikan anak. Namun itu saja tidak cukup, perlu peran-peran lain seperti peran pemerintah, tokoh agama, sekolah, tokoh masyarakat, media serta berbagai bahan bacaan dan tontonan. 

Akhirnya saya ingin menyampaikan bahwa telah nyata ancaman terorisme telah hadir di tengah-tengah kita. Kita harus waspada dan perlu langkah-langkah serus untuk mengantisipasinya. Perlu langkah-langkah nyata sebagai upaya mitigasinya. Peran kita semua sangat dibutuhkan demi terciptanya suasana aman damai di tengah kemajemukan kita dalam berbangsa dan bernegara.

--Hasrul Hadi

Dosen Universitas Hamzanwadi,




TUMPAHKAN ISI HATI DAN KEPALAMU DENGAN TULISAN

Pengalaman yang baik perlu diceritakan. Begitupula dengan pengetahuan yang perlu untuk dibagi. Dengan membagikan pengalaman hidup yang berharga, maupun pengetahuan yang berguna tentu akan sangat berarti bagi orang lain. Sekecil apapun sesederhana apapun. Saya meyakini bahwa itu akan mendatangkan manfaat. Setidaknya bisa menjadi pengingat bagi diri sendiri serta mendatangkan kepuasan batin. Setidaknya demikian.

Suatu yang berharga terlalu sayang untuk disimpan sendiri. Konsep sedekah sebenarnya tidak hanya berlaku dengan memberi atau membagikan uang atau benda materiil lainnya kepada orang lain. Pengalaman dan pengetahuan juga tentu sangat berarti bagi orang lain yang membutuhkannya. Mungkin bisa jadi pengalaman dan pengetahuan yang kita miliki sangatlah sepele dan remeh-temeh menurut kita pribadi. Namun bisa jadi hal itu menjadi sangat luar biasa bagi orang lain. We never know, kita tak pernah tau pribadi mana yang terbantu dengan pengalaman dan pengetahuan yang kita bagikan. Sebaiknya tulis saja dan bagikan.

Menurut beberapa hasil penelitian, menulis juga membantu meredakan stres. Pikiran juga menjadi lebih plong. Itulah yang coba saya terapkan saat ini. Ketika pikiran saya mulai tidak karu-karuan, saya mencoba meluruskannya --ibarat benang kusut-- agar lebih tertata dengan rapi. lebih siap digunakan untuk menghasilkan karya-karya dan hasil kerja yang lebih produktif dan berkualtias. Saya mencoba menulis bebas (free writing). Hal ini bertujuan memperlancar saya dalam menulis. Saya berupaya menyingkirkan serangkaian aturan menulis yang cukup membuat beban bagi saya. Ini yang saya pelajari dari beberapa saran ahli baca-tulis seperti Hernowo dalam bukunya Mengikat Makna.

Saya baru saja membaca buku Hernowo melalui laman Google Book. Tulisannya yang mengalir menyadarkan saya bahwa tak perlu ragu menuangkan isi pikiran dan perasaan dalam sebuah tulisan. Dia mengungkapkan bahwa metode yang digunakan dalam menulis buku ada tiga: pertama dengan teknik standar, yaitu menyusunnya dalam urutan bab demi bab. Kedua, dengan mengumpulkan tulisan-tulisan yang sebelumnya telah dibuat secara terpisah. Menurut klaimnya, cara ke dua ini adalah cara termudah dan tercepat. Kemudian cara ke tiga yaitu dengan cara khasnya sendiri, yaitu menulis dengan cara bercerita. Menurut saya metode ketiga ini cukup menarik.

Apa menariknya menulis dengan metode bercerita? menurut saya ketika otak dan hati kita sudah penuh dengan "sesuatu" yang harus dituliskan, maka hal itu akan lebih mudah. Ibarat ingin memasak sebuah masakan, bahan-bahannya sudah tersedia lengkap. Mungkin saja juga sudah kepenuhan. Sehingga harus segera dimasak agar tidak membusuk. Begitu pula dengan bahan tulisan di kepala dan hati kita, seharusnya segera dituliskan agar tidak menguap begitu saja tanpa menjadi sebuah karya tulis yang bermakna. Ketika semua itu dituliskan, kemudian orang lain membacanya, apalagi mereka mendapatkan manfaat dari tulisan itu, maka bisa saya katakan disitulah konsep sedekah juga bekerja. Sedekah pengetahuan dan pengalaman itu juga berpahala. Karena memberikan manfaat bagi orang lain.

Kembali pada konsep menulis dengan cara bercerita. Setiap orang tentu memiliki pengalaman dan pengetahuan sebagai hasil belajarnya. Entah dari hasil membaca, berdiskusi, maupun meneliti. Semua itu jika hanya dipendam untuk diri sendiri rasanya kurang afdol. Perlu dibagikan kepada orang lain menggunakan cerita-cerita yang menarik. Cerita menarik yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan yang menarik dan menggugah pula. Orang lain tentu ingin mengambil manfaat dari apa yang dibacanya. Jangan lagi ditambah kekacauan atau kepusingan di kepalanya gara-gara kita menulis dengan bahasa mesin. Bahasa yang sulit dipahami si pembaca. Bukan manfaat yang diperoleh, bisa jadi kebosanan yang lebih dulu menyerangnya. Sehingga tulisan yang kita harapkan bermanfaat menjadi di tinggalkan dan tak dibaca dan tidak tersampaikan pesannya.

Metode bercerita dengan bahasa-bahasa sederhana akan memudahkan kita menyampaikan pesan tulisan kepada pembaca. Kita mungkin ingat bagaimana orang tua kita mendongengkan kita sebuah cerita dongeng sebelum tidur di kala kita masih kecil. Cerita-cerita itu tentu sangat menarik dan berkesan bagi kita. Itulah sebabnya dengan metode menulis dengan cara bercerita membuat konten atau isi tulisan yang berat dapat dicerna dengan lebih mudah oleh pembaca. Saya sangat terkesima dengan tulisan-tulisan Rhenald Kasali misalnya, seorang penulis terkenal di bidang pengembangan sumber daya manusia, manajemen, ekonomi dan lebih spesifik membranding dirinya sebagai pakar perubahan. Buku-bukunya cukup terkenal dan best seller. Penulis yang juga seorang guru besar ilmu manajemen UI ini menulis dengan metode bercerita dalam setiap tulisannya. Begitu mengalir, begitu renyah untuk dikunyah. Bahkan bagi kita yang awam akan topik-topik berat yang dibahasnya.

Dengan menggunakan metode bercerita Rhenal Kasali juga mencoba menyedarhanakan suatu pembahasan yang rumit. Saya pernah menyimak videonya yang mengungkapkan konsep the simlicity is power. Penjelasan yang sederhana adalah sebuah kekuatan. Ia berupaya mengurai masalah dan istilah yang rumit menjadi lebih mudah dipahami. Ini cukup menarik menurut saya dan harus ditiru jejak langkahnya dalam menulis buku. Mungkin hal ini disebabkan kecenderungan saya yang selama ini terlalu banyak bersinggungan dengan karya tulis ilmiah. Yang mana dalam penulisan karya ilmiah sangat tarbatasi dengan berbagai aturan dan ketentuan yang ketat. Sehingga terkesan bahasa yang digunakan kaku. Pencariran-pencairan kekakuan tulisan perlu dilakukan dengan metode bercerita ini.

Jadi, tidak perlu ragu untuk menulis sebenarnya. Kita punya banyak bahan di kepala dan di hati kita. Tinggal dituangkan dan ditumpahkan. Jika itu dianggap bermanfaat bagi orang lain, maka tuliskanlah. Di zaman serba digital ini sangat-sangat mudah sekali mempublikasikan tulisan kita. Terutama melalui berbagai media sosial seperti facebook, blog, maupun media warga seperti kompasiana. Namun pada kesempatan ini saya hanya menuliskannya di blog. Hasil tulisan ini pun dapat dibagikan kembali ke flatform media sosial lainnya seperti facebook, whatsapp, dll. Akhirnya semoga tulisan ini dapat menggugah kita semua untuk terus menulis dan membagikan konten-konten yang bermanfaat bagi orang lain.

Senin, 23 November 2020

EKSPEDISI AIR TERJUN SE-PULAU LOMBOK #1 : AIR TERJUN BENANG STOKEL DAN BENANG KELAMBU

Saya terbilang orang yang suka sekali melakukan perjalanan alam bebas. Baik mendaki gunung, camping di bukit, atau perjalanan harian ke beberapa lokasi termasuk pantai. Kali ini saya berencana untuk mengunjungi semua air terjun yang berada di Pulau Lombok. Namun tidak sekaligus, alias bertahap. Saya rencananya akan focus mengunjungi air terjun-air terjun di pulau Lombok. Baik air terjun yang ada di kawasan Kabupaten Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat, maupun Lombok Utara. Sebenarnya ada beberapa air terjun di pulau Lombok yang pernah saya kunjungi, antara lain air terjun Otak Kokok Joben, air terjun Semporonan, dan air terjun Sendang Gila. Namun kali ini saya berencana menjelajahi setiap air terjun yang ada di pulau Lombok satu per satu. 

Gagasan ini muncul tepatnya pada sabtu malam tanggal 21 November 2020. Keesokan harinya tepatnya hari Minggu 22 November 2020 pagi sekitar pukul 07.30 wita saya mulai menghubungi teman atau siapa saja yang sekiranya bisa diajak ngetrip ke salah satu air terjun di Lombok Tengah, yakni air terjun Benang Stokel dan Benang Kelambu. Pertama saya menghubungi teman saya Anwar, seorang dosen di UIN Mataram. Ternyata ketika saya hubungi dia ada di pantai Labuhan Haji bersama keluarganya. Ya mungkin sedang santai menikmati indahnya pagi di pantai Labuhan Haji. Saya utarakan ajakan saya, namun mungkin karena waktunya kurang tepat sehingga dia tidak bisa memenuhi ajakan saya. Dia pun menawarkan pergi bersama di waktu yang lain. 

Selanjutnya saya mencoba menghubungi salah seorang teman lagi via whatsapp, namanya Ghazali. Teman sesama dosen di Universitas Hamzanwadi. Saya tanyakan apa kesibukannya, ternyata dia sedang gotong royong melakukan rehabilitasi rumah. Saya sempat dikirimkan foto kegiatannya. Tak putus sampai di sana, saya coba menghubungi mahasiswa-mahasiswa saya yang sekarang sudah menjadi alumni. Mereka bertempat tinggal di Lombok Tengah. Saya mengutamakan mereka khususnya yang bertempat tinggal tidak jauh dari lokasi air terjun tersebut. Terdapat tiga nama yang saya hubungi, Rosidin, Fauzi dan Sapardiansyah. Rosidin ternyata tidak bisa ikut, karena sibuk mempersiapkan acara pelantikan KPPS esok hari. Maklum dia bekerja di KPU Lombok Tengah. Ke dua Fauzi, ternyata rumahnya di Praya yang lokasi dengan air terjun tersebut cukup jauh. Sementara itu setelah Sapardiansyah saya hubungi, dia juga tidak bisa karena sedang mengerjakan administrasi sekolah. Maklum dia adalah seorang guru di salah satu sekolah swasta di Lombok Tengah. Tiga orang tersebut jelas tidak bisa diajak ke lokasi air terjun. 

Saya terus berpikir kira-kira siapa yang bisa diajak ke lokasi air terjun tersebut. Lalu saya terpikir tentang salah seorang mahasiswa saya yang sekarang masih semester 3. Dia biasa dipanggil Ojik. Dia adalah seorang pecinta alam yang memang senang dengan kegiatan di alam bebas seperti naik gunung, camping dan jalan-jalan melakukan petualangan. Saya coba hubungi dengan menanyakan apa kesibukannya, ternyata dia tidak ada kesibukan. Dia juga menyatakan ketertarikannya untuk ikut. Dia berasal dari Tete Batu, Kecamatan Sikur, Lombok Timur. Akhirnya kami membuat janji untuk bertemu di perempatan Kotaraja depan masjid. Saya dan dia pun bergegas bersiap-siap berangkat. 

Akhirnya saya menemuinya tepat di depan masjid dekat perempatan Kotaraja. Kami tegur sapa sebentar, kemudian saya mengisi bensin motor di penjual bensin dekat masjid tersebut kemudian kami melanjutkan perjalanan. Sebenarnya ada dua jalur untuk menuju lokasi air terjun tersebut, yaitu jalur utama (Selong-Mataram) dan jalur pedesaan. Kami memilih jalur pedesaan. Dengan asumsi jalur ini lebih dekat dan tidak terlalu ramai. Jalur yang kami tempuh mulai dari Kotaraja-Perian-Wajageseng-Aik Berik (Lokasi Air Terjun). 

Sesampai di lokasi air terjun, kami langsung memarkirkan sepeda motor kami masing-masing ke tempat parkir yang telah disediakan. Biaya parkirnya 5000 rupiah per sepeda motor. Kami kemudian langsung menuju tempat pembelian tiket yang lokasinya tidak jauh dari tempat parkir. Namun sebelum membeli tiket masuk, kami menyempatkan diri mengambil foto beberapa obyek seperti gapura atau gerbang masuk, papan informasi mengenai air terjun serta peraturan-peraturan yang harus ditaati selama di air terjun. Di loket pembelian tiket itu kami membeli tiket dengan harga tiket 5000 rupiah per orang. 

Gapura/Pintu masuk menuju Air Terjun

Informasi seputar Air Terjun Benang Stokel dan Benang Kelambu

Info Situs Geopark

Peraturan

Loket Pembelian Tiket Masuk

Setelah masuk ke gerbang besar itu, di samping kiri dan kanan jalan terlihat pedagang makanan yang berjejer rapi. Ada yang menjual nasi campur, nasi goreng, pop mie, snack dan aneka makanan lainnya. Sekitar 50 meter dari gapura kami diminta untuk menyerahkan tiket yang telah kami beli oleh beberapa orang petugas. Tempat pengecekan tiket tersebut merupakan pintu masuk utama ke lokasi air terjun. Di sana juga kami sempat mengambil foto orang-orang dan informasi peraturan yang harus ditaati. Di lokasi itu kami juga ditawarkan untuk naik jasa ojek yang ongkosnya 35 ribu antar jemput. Namun kami menolak tawaran tersebut, karena memang kami ingin menikmati perjalanan menghirup udara segar di kawasan hutan sepanjang perjalanan. 

Pangkalan ojek dan pos pengecekan tiket masuk

Peraturan Penting

Gerbang masuk kawasan HKm dan obyek wisata
air terjun Benang Stokel dan Benang Kelambu


Sejak memasuki pintu masuk tersebut kami menyaksikan rimbunnya pepohonan hutan serta segarnya udara yang kami hirup. Beberapa pengunjung juga sesekali terlihat menuju air terjun tersebut. Maklum kami ke air terjun tersebut pada hari Minggu atau hari libur, sehingga memang akan banyak pengunjung yang tentu juga ingin menikmati liburan di air terjun tersebut. Tak lupa sesekali kami mengabadikan perjalanan itu dengan mengambil foto rimbun dan hijaunya pepohonan di hutan tersebut. 

Hutan yang hijau, rimbun, sejuk dan segar

Numpang nyengir bersama Ojik dan topi runcingnya


Berselang kurang lebih 15 menit, akhirnya kami sampai di air terjun Benang Stokel. Air terjun ini memiliki dua buah air terjun. Sesampainya di air terjun ini kami menemukan lumayan cukup banyak pengunjung, umumnya pengunjung datang dengan rombongan keluarga. Namun ada pula dari kalangan rombongan muda mudi yang datang. Beberapa obyek kami abadikan gambarnya melalui kamera ponsel kami. Sesekali mengamati keadaan sekitar kemudian kami beranjak mendekat menuju air terjun. Tentu tidak kami sia-siakan kesempatan itu untuk mendokumentasikan moment tersebut, kami berfoto bergiliran. Tak lupa pula kami mencuci muka serta merasakan sejuk dan segarnya air terjun benang stukel. Meskipun tidak mandi di air terjun itu, setidaknya kami bisa merasakan sejuk dan kesegarannya. Beberapa pengunjung terlihat sedang mandi beramai-ramai di bawah air terjun tersebut. Di lokasi Air Terjun Benang Stokel kami tidaklah lama. Hanya sekitar 15 menit saja. Kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju air terjun Benang Kelambu. 

Anak tangga menuju Air Terjun Benang Stokel

Penampung Air di Kawasan Air Terjun Benang Stokel

Papan Informasi proses terbentuknya
Air Terjun Benang Stokel


Beberapa orang pengunjung yang sedang menikmati
suasana di Air Terjun Benang Stokel

Ojik dan topi runcingnya berpose di antara dua
Air Terjun Benang Stokel


Tak mau kalah dong, saya juga ikut berpose

Menikmati sejuknya air terjun Benang Stokel

Dalam perjalanan menuju Air terjun Benang Kelambu kami tempuh dengan berjalan kaki. Kami kembali menyusuri jalan setapak yang masuk kawasan hutan. Tidak sampai lima menit, kami menemukan para pedagang yang menjajakan makanan dan minuman. Setelah melewati para pedagang tersebut masuk kembali kawasan hutan, namun jenis hutan ini adalah Hutan Kemasyarakatan (HKm). Karena jenis tanaman yang tumbuh di sana tidak hanya tanaman hutan dengan pohon-pohon besar dan lebat, namun juga kami menemukan tanaman perkebunan seperti nangka, duren, pisang dan beberapa jenis tanaman perkebunan lainnya. Hal ini sebagaimana tertulis jelas pada gerbang masuk kawasan wisata air terjun Benang Stukel dan Benang Kelambu. Tertulis bahwa kawasan ini merupakan kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKm) Gapoktan Rimba Lestari.

Seorang pengunjung berjalan menuju
Air Terjun Benang Kelambu


Berjalan selama kurang lebih lima belas menit rasanya lumayan lelah dan berkeringat. Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat sejenak di sebuah berugak sederhana. Tempat di mana para pengunjung bisa beristirahat dan menikmati makanan dan minuman. Kami melepas lelah sejenak sembari ngobrol-ngobrol tentang berbagai hal. Tiba-tiba dua orang menghampiri kami, yang ternyata mereka adalah mahasiswa saya juga. Deni dan Tarbit. Deni adalah seorang mahasiswi saya dan sekarang di semester 7, sedangkan Tarbit saat ini masih semester 3 sama seperti Ojik teman sekelasnya. Mereka datang ke lokasi air terjun ini bersama rombongan teman-teman desanya, desa Gereneng. Ikutlah mereka nimbrung ngobrol-ngobrol sebentar kemudian pamit untuk berangkat duluan ke air terjun Benang Kelambu. Kami pun kemudian menyusul. 

Istirahat sejenak melepas lelah, kemudian bertemu
dengan Deni (jilbab putih) dan Tarbit (baju hitam)


Beberapa lama kemudian kami menemukan pintu masuk untuk turun menuju Air Terjun Benang Kelambu. Di dekat pintu masuk tersebut terdapat beberapa pedagang makanan, juga pangkalan ojek. Di dekat pintu masuk itu juga terdapat papan informasi geopark Rinjani, khususnya seputar Air Terjun Benang Kelambu. Tak lupa kami mengabadikannya dengan memfoto. Kami juga membaca beberapa informasi tersebut sambil diskusi-diskusi ringan. Tak lama kemudian kamipun masuk dan menuruni sekitar puluhan atau mungkin ratusan anak tangga. 

Papan Informasi proses terbentuknya
Air Terjun Benang Kelambu

Sepanjang jalan menuruni anak tangga kami menemukan lumayan banyak pengunjung. Namun semakin banyak lagi ketika kami sudah sampai di lokasi Air Terjun Benang Kelambu. Ada pengunjung yang mandi, mengambil foto, selfie, dan hanya sekedar ngobrol-ngobrol dengan teman atau rombongan mereka. Air Terjun Benang Kelambu memang sesuai dengan namanya. Benang Kelambu merupakan bahasa sasak yang artinya benang korden. Air terjun yang jatuh seperti benang-benang yang menjuntai jatuh dengan lurus. Lelahnya perjalanan cukup terbayar dengan keindahan air terjun ini. Apalagi dengan airnya yang sejuk dan menyegarkan. Di sekitaran air terjun ini juga disediakan fasilitas atau spot selfie. Hanya dengan membayar sebesar dua ribu rupiah para pengunjung sudah dapat melakukan foto selfie di lokasi tersebut. Tentu kami tidak menyia-nyakan kesempatan itu. Saya dan Ojik juga berfoto di spot foto tersebut. Kami juga menjumpai Deni dan Tarbit di sana. Tak lupa kami berfoto bersama. Dengan background air terjun benang kelambu tentunya foto kami sedikit terlihat lebih indah dan instagramable. Hanya mungkin akan terasa sedikit agak kurang nyaman dengan padatnya pengunjung. namun kami cukup menikmati suasana di air terjun tersebut. 

Para pengunjung menuruni anak tangga menuju
Air Terjun Benang Kelambu


Ramainya Pengunjung di Air Terjun Benang Kelambu

Spot foto dan selfie


Saya dan Ojik berpose dengan background
Air Terjun Benang Kelambu


Foto Berempat: Deni, Tarbit, saya dan Ojik

Para pengunjung di tangga naik spot foto

Setelah puas berfoto dan melihat-lihat keadaan sekitar tak terasa jam menunjukkan pukul 12 lewat 30 menit. Artinya sudah masuk waktu shalat zuhur. Kami kemudian menuju sebuah mushalla untuk melaksanakan shalat zuhur. Selain fasilitas mushalla untuk shalat, di lokasi itu juga disediakan ruang ganti pakaian dan kamar mandi. Usai shalat, kami langsung bergeras untuk pulang. Menaiki kembali anak tangga yang kami lewati ketika datang. Sesekali kami juga berhenti untuk istirahat melepas lelah, sembari ngobrol dan menikmati kopi dan makanan ringan. 

Musholla kecil tempat shalat

Tempat wudhu nya, airnya sejuk dan segar

Sesampai di dekat gapura kami mencoba mencari soto hangat untuk mengisi perut. Ide ini muncul dari saya sendiri mengingat kondisi lokasi yang sedikit dingin, dalam benak saya mungkin enak makan soto, selain untuk menghilangkan rasa lapar, juga sebagai penghangat tubuh setelah dari air terjun. Namun beberapa warung yang kami masuki tidak menyediakan soto, hanya menjual mie instan, nasi campur, makanan ringan dan beraneka jenis minuman. Akhirnya kami memutuskan untuk langsung pulang dan nantinya akan mampir di warung soto yang cukup terkenal di desa Kotaraja. Akhirnya kami bergegas menuju parkiran, mengambil sepeda motor kami masing-masing dan beranjak pulang. 

Perut semakin memberontak, rasa lapar cukup terasa. Sekitar 40 menit perjalanan akhirnya kami sampai di warung soto di desa Kotaraja. Setelah menikmati soto hangat, kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju desa Tete Batu, tepatnya menuju rumah Ojik. Cuaca sedikit mendung ketika kami masih di perjalanan. Sesampai di rumah Ojik, saya disambut ramah oleh bapak, ibu dan saudara-saudaranya. Awalnya saya diajak duduk santai di sebuah bangunan yang katanya sering dijadikan tempat pertunjukan (semacam sanggar budaya). Selain itu beberapa kali juga digunakan sebagai tempat pertemuan pemerintah desa. Kondisinya cukup nyaman karena langsung berdekatan denga hamparan sawah yang hijau dan sejuk dipandang mata. 

Beberapa menit kami sempat ngobrol mengenai berbagai hal, tak lama kemudian tiba-tiba turun hujan. Ditambah dengan angin cukup kencang, sehingga kami terkena dengan percikan air hujan tersebut. Kami akhirnya pindah ke dalam rumah. Semakin lama, hujan disertai angin kencang semakin membuat suasana semakin mencekam. Daun-daun pepohonan berguguran. Tak lama kemudian pohon jambu di luar rumah terlihat patah dan hampir menimpa sepeda motor saya. Tak lama berselang tiba-tiba butiran-butiran es turun bersamaan dengan turunnya hujan. Kami cukup kaget, karena tumben menemukan kondisi cuaca yang cukup ekstrim tersebut. Sekitar hampir 30 menit hujan badai itu terjadi, akhirnya mereda juga. Cuaca terlihat cerah, kenampakan gunung Rinjani juga terlihat sangat jelas, gagah menjulang tinggi. Orang-orang mulai keluar rumah, bergotong royong membersihkan halaman rumah yang kacau bekas hujan badai tadi. 

Beberapa saat di dalam rumah, saya dan Ojik ngobrol-ngobrol sambil menikmati kopi hangat dan kolak ubi hangat. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 16.00 wita. Saya kemudian sholat ashar dulu sebelum akhirnya pamit untuk melanjutkan perjalanan pulang. Di perjalanan pulang saya menemukan sekitar tujuh pohon-pohon besar bertumbangan akibat hujan disertai angin badai tadi. Terutama di dekat SMK Tete Batu. Terlihat beberapa orang sedang memotong ranting-ranting pohon yang menindih kabel-kebel listrik. Kondisi listrik tentu mati total akibat kejadian angin badai tersebut. Saya pun terus melanjutkan perjalanan pulang dan akhirnya sampai di rumah dengan selamat. 

Bagik Longgek, 23 November 2020 

--Hasrul Hadi

Selasa, 10 November 2020

Aliran Filsafat Pendidikan Progresivisme

Pelaksanaan proses-proses pendidikan tidak terlepas dari filsafat yang mendasarinya. Dalam filsafat pendidikan terdapat beberapa aliran-aliran filsafat sebagai dasar dalam pelaksanaan proses-proses pendidikan tersebut. Salah satu aliran dalam filsafat pendidikan adalah Progresivisme. Aliran filsafat pendidikan ini awalnya muncul pada abad ke-19 dan berkembang pesat pada permulaan abad ke-20. Aliran filsafat ini sangat berpengaruh terhadap pembaruan pendidikan. Progresivisme muncul sebagai reaksi terhadap pola pendidikan tradisional yang menekankan pada metode-metode formal pengajaran. Khususnya sistem pengajaran langsung oleh guru sebagai upaya transfer pengetahuan kepada peserta didik.

Progresivisme secara etimologis berasal dari kata progresive yang berarti kemajuan, dan isme yang berarti faham atau aliran. Dengan demikian progresivisme dapat diartikan sebagai faham yang berorientasi pada kemajuan. secara harfiah aliran progresivisme menghendaki terjadinya kemajuan-kemajuan yang cepat. Dalam pandangan filsafat pendidikan progresivisme pendidikan bukan hanya sekedar upaya pemberian sekumpulan pengetahuan kepada peserta didik, tetapi lebih menekankan pada pemberian pengalaman dan keterampilan nyata agar pserta didik dapat survive menjalani khidupannya di masa-masa yang akan datang.





Selasa, 03 November 2020

POSITIVE LEGACY

Tiba-tiba ide ini muncul di kepala saya. Ide tentang karya yang saya ciptakan sebagai warisan positif. Apapun itu, selama bernilai positif maka akan saya abadikan. Baik dalam bentuk tulisan maupun audio-visual.

Media yang cocok untuk hal ini menurut saya adalah website, jurnal ilmiah, rubrik opini surat kabar, jurnal ilmiah, buku, dan youtube. Apapun hal baik atau positif akan saya abadikan sebagai warisan bagi generasi setelah saya. Setidaknya dengan konten-konten yang saya sajikan akan dapat menginspirasi mereka. Baik untuk melakukan hal positif yang sama, maupun hal positif lainnya.

Konten-konten yang sudah ada di website dan youtube saya harus dirapikan. Diarahkan untuk menjadi jejak digital yang bernilai warisan positif (positive legacy). Adapun konsern yang akan saya garap tidak terlalu banyak dibatasi pada bidang-bidang tertentu saja. Namun selama saya mampu dan bernilai warisan positif tentu besar kemungkinan saya akan mengabadikannya.

Di dalam angan-angan saya membayangkan nantinya akan mewawancarai tokoh-tokoh inspiratif di bidangnya. Selain itu saya juga sekali waktu bisa membawakan materi atau konten tertentu yang memiliki nilai edukasi dan inspirasi.

Sebenarnya menurut saya, mewariskan hal positif tidak melulu melalui media digital dan cetak. Warisan positif juga tidak selalu berkaitan dengan harta benda. Karena sejatinya warisan positif bisa juga kita mulai dari lingkungan terdekat kita. Yaitu dengan menciptakan kebiasaan-kebiasaan positif yang dikerjakan berulang-ulang secara konsisten.

Contoh kecil saya sudah menerapkan kebiasaan magrib mengaji di lingkungan keluarga kecil saya. Setiap usai shalat magrib sebisa mungkin kami membaca Al-Qur'an (mengaji) secara bersama-sama. Ada saya, istri saya dan putri kecil kami yang masih berusia empat tahun. Waktu antara magrib dan isya kami manfaatkan untuk membaca Al-Qur'an. Kami berusaha memperkenalkan dan mengajarkan membaca Al-Qur'an kepada anak kami sejak dini. Hal ini bertujuan agar ia terbiasa kemudian tumbuh rasa cinta pada Al-Qur'an. Selain mengajarkan membaca, waktu antara magrib dan isya juga dapat dimanfaatkan untuk menghafal ayat-ayat Al-Qur'an serta menyelami makna atau kandungan di dalamnya.

Itu baru satu contoh warisan positif yang saya harapkan bisa diwariskan oleh anak saya. Warisan tersebut kemudian diwariskan kembali kepada keluarganya, baik suami maupun anak-anaknya kelak. Kunci keberhasilan agar menjadi warisan positif yang berkelanjutan adalah pembiasaan yang berulang secara konsisten. Apapun perbuatan baik dan positif jika dibiasakan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya, maka tidak mustahil kebaikan-kebaikan tersebut akan lestari dan abadi di muka bumi ini.

Harapan saya, semoga saja niatan baik ini bisa bermanfaat dan diberkahi oleh Allah SWT, Aamiin.

  

Kamis, 15 Oktober 2020

HUJAN DAN SEBUAH KENANGAN

Ketika itu, hujan gerimis memaksaku berhenti dan turun dari sepeda motorku. Tepat di sebuah pengkolan sebuah kompleks perumahan. Sebuah kios tutup, dan menyediakan sedikit ruang buat berteduh. Ku coba mengibaskan jaket ku yang sedikit basah oleh guyuran gerimis itu. Suasana dingin dengan semilir angin sedikit menyelimuti. Sementara, waktu semakin sore. Aku mencoba bersabar, menunggu hujan reda.

Selang beberapa lama kau pun datang. Muncul di hadapanku dengan sedikit senyuman. Akupun membalasnya, mencoba sedikit tersenyum untukmu. Aku sadari memang kehadiranmu menambah suasana menjadi lebih hangat. Ada semacam perasaan tak biasa di hati ini.

Pada akhirnya aku beranikan diri mengungkapkannya padamu.

"Bang, pesan ciloknya dong..!!!

dan akhirnya akupun makan cilok, ditemani hujan yang belum juga reda.
Hujan ini, telah mengingatkan ku tentang kenangan kejadian itu.
Sungguh kenangan yang indah.

CATATAN TENTANG FENOMENA COVID-19

Hampir semua sektor kehidupan terkena dampak pandemi Covid-19. Sektor ekonomi, kesehatan, sosial, politik juga sektor pendidikan tak luput t...