Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama Ia tidak menulis, Ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian -- Pramoedya Ananta Toer
Selasa, 31 Oktober 2023
Materi Kuliah Geografi Regional Dunia 2023
Senin, 14 Agustus 2023
Jumat, 26 Agustus 2022
FORM ISIAN TRACER STUDY UNIVERSITAS HAMZANWADI
Bismillahi Wabihamdihi
Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh
Info Tracer Study
Kepada Rekan-rekan Alumni Universitas Hamzanwadi,
mohon kesediaan waktu saudara/i kurang lebih 15 menit untuk mengisi kuesioner Tracer Study berikut ini. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan karir alumni pasca lulus dari Universitas Hamzanwadi. Pengisian tracer study dapat dilakukan dengan Klik di Sini
Keluangan waktu saudara/i untuk mengisi form tracer study ini menjadi hal yang sangat berarti untuk perkembangan kampus kita tercinta.
Terima Kasih
Wallahulmuafiq Walhadiilasyabilirrosyad
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Hormat Kami
Pusat Karir dan Kerjasama Alumni (PKKA)
Universitas Hamzanwadi
Kamis, 11 Agustus 2022
Rabu, 04 Agustus 2021
CATATAN TENTANG FENOMENA COVID-19
Hampir semua sektor kehidupan terkena dampak pandemi Covid-19. Sektor ekonomi, kesehatan, sosial, politik juga sektor pendidikan tak luput terkena dampak. Pemerintah mengeluarkan peraturan PPKM (Program Pembatasan Kegiatan Masyarakat), yang dalam pelaksanaannya membatasi seluruh kegiatan masyarakat untuk berinteraksi dan berkerumun secara langsung. Hal ini tentu sangat memberatkan bagi sebagian masyarakat, khususnya masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada pendapatan harian. Kondisi masyarakat yang dibatasi aktivitasnya menyebabkan mereka kekurangan pembeli atas apa yang dijajakan. belum lagi terbatasnya teknis berjualan terutama pedagang makanan yang tidak diperbolehkan menerima pelanggan yang makan di tempat. Sehingga jika ada pembeli makanan, mereka harus membungkusnya dan dibawa pulang ke rumah masing-masing.
Selain masalah yang dihadapi oleh para pedagang kaki lima yang dibatasi ruang geraknya, masalah juga muncul bagi kalangan pekerja dan pelajar yang kegiatannya dibatasi untuk belajar atau bekerja dari rumah. sudah hampir dua tahun pandemi ini berlangsung, sehingga mau tidak mau kegiatan belajar dan bekerja banyak dilakukan di rumah dengan komunikasi menggunakan aplikasi zoom meeting, google meet, whatsapp, dan lainnya. Mereka hampir setiap hari bekerja dan belajar dengan menatap layar leptop maupun smartphone nya. Keadaan ini lambat laun menimbulkan perasaan bosan. Semangat belajar dan bekerja ikut menurun, sehingga bisa dikatakan produktivitas menjadi berkurang pula.
Kebosanan ini kemudian berlanjut dengan upaya melarikan diri dari keadaan. Tidak sedikit masyarakat yang sudah lelah dan bosan dengan keadaan ini pergi keluar dari rumahnya untuk menghilangkan penat. Ada yang berkunjung ke tempat-tempat wisata seperti pantai, gunung, bahkan ada yang berkumpul dan berkerumun mengunjungi tempat-tempat publik di perkotaan seperti taman maupun tempat-tempat lain untuk berinteraksi dengan teman-teman mereka.
Apa yang terjadi kemudian? kita bisa melihat peristiwa yang cukup mengerikan pasca masuknya virus korona di Indonesia, khususnya varian delta yang berasal dari India. Tingkat penyebaran virus varian ini diketahui lebih cepat. Apalagi diperparah dengan semakin lemahnya tingkat kesadaran masyarakat yang meremehkan protokol kesehatan dengan mengabaikan menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menjaga imunitas badan. Akhirnya Indonesia mengalami apa yang disebut kasus Covid-19 gelombang ke dua.
Pada kasus Covid-19 gelombang ke dua ini bisa dikatakan cukup mengkhawatirkan. Hal ini dikarenakan kasusnya yang terus melonjak tinggi sehingga rumah sakit dan tenaga kesehatan yang jumlahanya terbatas menjadi sangat kewalahan. Rumah sakit penuh. Para pasien berjejer di halaman-halaman rumah sakit dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Suara sirine ambulan terdengar di mana-mana. Sempat terjadi kelangkaan oksigen untuk membantu pernapasan para pasien positif yang membutuhkan. Dan tentu saja banyak kematian pasien yang tidak bisa dihindarkan mengingat ketidakmampuan fasilitas rumah sakit maupun tenaga kesehatan dalam melayani. Meski tidak sama tingkat keparahan kasusnya, peristiwa di negara kita ini hampir mirip dengan yang terjadi di India.
Kesadaran Kita
Berdasarkan peristiwa yang terjadi itu, semestinya kita harus banyak merenung. Banyak introspeksi terhadap apa yang kita lakukan selama ini. Terutama bagi kita yang menyepelekan dan mengabaikan protokol kesehatan. Bahaya Covid-19 ini nyata dan sudah banyak merenggut nyawa. Tidak sedikit orang-orang yang telah meninggal karena kasus Covid-19 tersebut merupakan tokoh atau seseorang yang kita kenal. Tokoh pemerintah, tokoh agama, bahkan ada juga mungkin sanak saudara dan bagian dari keluarga kita. Peristiwa ini seharusnya menyadarkan kita berasama.
Pemerintah mungkin tidak sempurna dan belum siap sepenuhnya menangani pandemi ini. Akan tetapi upaya-upaya yang dilakukan pemerintah sudah mengarah pada upaya mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh Covid-19 ini. Anjuran menerapkan protokol kesehatan, vaksinasi dan bantuan sosial merupakan contoh kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Namun jika dilihat faktanya di lapangan ke tiga kebijakan tersebut menemukan masalahnya sendiri-sendiri. Masalah protokol kesehatan misalnya, masih banyak masyarakat yang abai dan tidak mematuhi protokol kesehatan, masih banyak yang tidak menggunakan masker, banyak yang malas mencuci tangan dengan sabun, banyak pula yang tidak menjaga jarak dan berkerumun. Vaksinasi juga tidak luput dari masalah. Target vaksin 70% masyarakat indonesia sepertinya sulit tercapai mengingat menurut hasil survei LIPI sekitar 45% masyarakat tidak percaya dengan vaksin, sehingga jumlah masyarakat yang sudah diberikan vaksin saat ini masih hanya 6%. Bantuan sosial juga menemukan masalahnya sendiri, selain tidak tepat sasaran bansos juga dikorupsi oleh mentri sosial. Peristiwa-peristiwa tersebut tentu membuat hati kita semakin miris dan tentu saja akan memperlambat keberhasilan penanganan Covid-19 di negara kita ini. Semoga ini menjadi pelajaran berharga untuk kita agar kita semakin sadar dan berupaya sebaik mungkin dan semampu kita mengurangi risiko bencana non alam pandemi Covid-19 ini.
Bagik Longgek, 05 Agustus 2021
Rabu, 31 Maret 2021
JAGA ANGOTA KELUARGA DARI PAPARAN PAHAM RADIKALISME
Awalnya saya tau informasi ini dari postingan Deddy Korbuzier di akun Youtubenya. Dalam video singkat yang diunggahnya, ia menjelaskan bahea telah terjadi aksi penembakan seseorang tak dikenal di lingkungan kantor mabes Polri di Jakarta. Deddy mengungkapkan betapa bodohnya aksi terorisme yang dilakukan itu. Alasannya, jenis senjata yang digunakan adalah sejenis senjata angin (air soft gun) yang tentunya tidak mematikan jika digunakan untuk menembak orang. Ia memperlihatkan sekilas foto seseorang yang diduga teroris tersebut sudah dalam keadaan tergeletak dan tak bernyawa dengan map kuning dan pistol yang terjatuh di dekatnya.
Saya kemudian menghentikan video Deddy dan beralih mencari informasi lebih detail tentang kasus tersebut. Saya kemudian menemukan berita dan video amatir yang menayangkan pergerakan pelaku beberapa saat sebelum akhirnya roboh akibat ditembus peluru aparat.
Dalam video amatir yang beredar terlihat seorang perempuan mengenakan gamis, hijab dan masker berwarna hitam. Terlihat seuah map warna kuning ada didekapan tangannya sebelah kiri. Sementara tangan kanannya memegang senjata tembak berupa pistol yang diarahkan dan ditembakkan ke segala penjuru. Beberapa kali terdengar suara tembakan. Hal ini kemudian mengundang reaksi cepat dari pihak aparat kepolisian. Tak perlu waktu lama, dalam hitungan menit, pelaku berhasil dilumpuhkan dengan tembakan. Pelaku yang terkena tembakan langsung roboh dan tergeletak di halaman kantor Mabes Polri tersebut.
Beberapa mesia online memberitakan bahwa dalam waktu singkat pihak aparat kepolisian berhasil mengidentifikasi pelaku. Pihak berwenang langsung menggedah rumah pelaku dan memawa orang tua pelaku untuk dimintai keterangan. Ditemukan pula surat wasiat dari pelaku serta ucapan pamit di grup whatsapp. Selain itu pada postingan akun instagram pelaku ditemukan konten-konten yang sangat berkaitan erat dengan kelompok radikal teroris internasional ISIS.
Dalam surat wasiat yang ditulis pelaku dalam selembar kertas ia menyampaikan permohonan maafnya kepada seluruh keluarganya. Ia juga memberikan beberapa nasihat terutama agar menghindari bekerjasa dengan pemerintah yang disebutnya sebagai thagut. Dalam suratnya tersebut juga secara jelas disebutkan betapa anti dan bencinya ia tentang sistem demokrasi dan pancasila yang dianggapnya bertentangan dengan Alquran dan As sunnah. Hal itu ditekankan betul pada surat warisan tersebut kepada seluruh keluarganya.
Menurut hasil analisis dari pihak kepolisian tindakan terorisme yang dilakukan tidaklah terorganisir. Tapi bergerak sendri atau dikenal dengan istilah single wolf alone. Menurut keterangan tetangga pelaku dikabarkan bahwa keseharian pelaku cenderung menyendiri di rumah dan cenderung tertutup dan kurang bergaul.
Pelajaran Berharga Bagi Kita
Pelaku penrmbakan di kantor mabes polri ini terbilang masih muda. Ia kelahiran 1995 yang berarti usuanya sekitar 25 tahun. Apa artinya semua ini? Bisa jadi ia menyelami sendiri informasi kemudian berkenalan dengan orang-orang berpikiran radikal yang kemudian mencuci otaknya (brain wash) sehingga ia mau dan berani malakukan tindakan radikal itu.
Tentu peristiwa ini membuat kita miris. Karena kejadian ini hanya berselang beberapa hari setelah ledakan bom di salah satu gereja di kota Makasar Sulawesi Selatan. Tentu kita bertanya-tanya bagaimana peran orang tuanya dalam memantau perkembangan anaknya. Tidak adakah yang curiga dan menaruh rasa penasaran dengan kecenderungannya yang bersikap tertutup?
Kita mendapatkan pembelajaran berharga dari peristiwa ini untuk lebih serius memantau perkembangan seluruh anggota keluarga kita masing-masing. Kita patut bertanya dan berbicara serius jika menemukan gejala-gejala yang memungkinkan mereka terjerumus dan terpapar dalam dunia radikalisme.
Kita perlu menyelami seperti apa pemikirannya, bagaimana sudut pandangnya, apa bacaan dan tontonannya, siapa tokoh idolanya dan sebagainya. Jika tidak maka bisa jadi kita hanya akan mendapatkan penyesalan semata. Dari peristiwa ini kita tersadarkan bahwa tidak selamanya menutup diri itu baik dan tidak selamanya banyak bergaul itu jahat. Itu semua tergantung bagaimana kita mengendalikannya.
Keluarga memang menduduki peran utama dalam pendidikan anak. Namun itu saja tidak cukup, perlu peran-peran lain seperti peran pemerintah, tokoh agama, sekolah, tokoh masyarakat, media serta berbagai bahan bacaan dan tontonan.
Akhirnya saya ingin menyampaikan bahwa telah nyata ancaman terorisme telah hadir di tengah-tengah kita. Kita harus waspada dan perlu langkah-langkah serus untuk mengantisipasinya. Perlu langkah-langkah nyata sebagai upaya mitigasinya. Peran kita semua sangat dibutuhkan demi terciptanya suasana aman damai di tengah kemajemukan kita dalam berbangsa dan bernegara.
--Hasrul Hadi
Dosen Universitas Hamzanwadi,
TUMPAHKAN ISI HATI DAN KEPALAMU DENGAN TULISAN
Implementation of Open-Ended Approach to Improves Learning Outcomes in Social Studies-Geography of Junior High School
Untuk Membaca/Download ==> KLIK DI SINI
-
Berawal dari ajakan seorang teman, namanya Anwar. Melalui pesan whatsapp ia menyampaikan ajakannya untuk pergi camping di salah satu obyek...
-
Oktober 01, 2013 Dua minggu berlalu terasa begitu singkat. Namun di hari-hari yang telah terlewati, begitu banyak kejadian yang...
-
Sumber : Google.com Oleh : Hasrul Hadi Di suatu kesempatan, seorang anak kecil tak sengaja menginjak lembaran koran yang terlihat lusuh...

