Senin, 24 Juli 2017

GEOAKSI

Oleh : Hasrul Hadi, M.Pd.

(Pembina HMPS Pendidikan Geografi)

GEOAKSI merupakan sebuah gagasan program sebagai basis kegiatan utama dan unggulan bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi. Kata “GEOAKSI” dapat dirartikan sebagai aktivitas yang dilandasi oleh ilmu Pendidikan Geografi. GEOAKSI diibaratkan sebagai sebuah payung yang menaungi beberapa program unggulan bidang Pendidikan Geografi. Selain itu, GEOAKSI juga berfungsi sebagai wadah unjuk karya bagi mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi. Sehingga dengan singkat dapat dikatakan GEOAKSI adalah sekumpulan aksi nyata dan karya mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi. Pelaksanaan program ini dapat dikembangkan berdasarkan ide-ide kreatif mahasiswa maupun dosen prodi Pendidikan Geografi Universitas Hamzanwadi. Beberapa program tersebut antara lain :

1. Penulisan Karya Ilmiah
Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kemajuan ilmu pengetahuan. Sebagai ajang perlombaan menghasilkan karya tulis ilmiah terbaik serta sebagai tanggung jawab moral menjalankan salah satu domain tridharma perguruan tinggi. Kegiatan ini dibimbing langsung oleh Pembina HMPS dalam hal pelatihannya rutin satu kali dalam seminggu. Diharapkan dari kegiatan pelatihan tersebut, sensitivitas mahasiswa dalam melihat berbagai fenomena geosfer menjadi inspirasi penulisan karya ilmiah yang muaranya pada even-even perlombaan karya tulis ilmiah baik di tingkat, lokal, nasional bahkan internasional. Selain itu, karya tulis mahasiswa juga diharapkan dapat dipublikasikan di berbagai media publikasi.

2. Seminar Nasional Geografi
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan wawasan mahasiswa khususnya dalam bidang pendidikan geografi sebagai wujud pengembangan ilmu pengetahuan. Di samping itu kegiatan seminar nasional geografi juga dapat menjadi pencerahan bagi segenap mahasiswa geografi maupun guru-guru geografi. Sehingga diharapkan mampu menambah dan mengikuti perkembangan khazanah ilmu pengetahuan, khususnya di bidang pendidikan geografi.

3. Pengembangan Media dan Model Pembelajaran Geografi
Untuk menjawab berbagai permasalahan pembelajaran Geografi di sekolah, khususnya pada jenjang pendidikan menengah (SMP dan SMA), maka dibutuhkan upaya pengembangan media dan model pembelajaran yang inovatif. Kegiatan pengembangan media dan model pembelajaran inovatif ini dilakukan oleh mahasiswa dengan pendampingan intensif dari dosen.

4. Geo Green Action
Kegiatan ini merupakan aksi nyata sebagai langkah untuk menghadapi persoalan kekeringan dan sebagai langkah konservasi lahan kritis. Geo Green Action terdiri dari dua aksi utama, yaitu pembibitan pohon dan penghijauan lahan kritis. Kegiatan pembibitan dipusatkan di sebuah lahan milik orang tua salah seorang mahasiswa di lingkungan Desa Majidi Kecamatan Selong. Lahan tersebut sekaligus dijadikan Basecamp GeoGreen Action yang sifatnya sementara. Aksi selanjutnya yaitu kegiatan penghijauan yang dilakukan pada lahan kritis, khususnya yang berada di Kabupaten Lombok Timur, dan di Provinsi NTB serta daerah lainnya di Indonesia pada umumnya.

5.  Creative GeoArt
Sebagai wadah untuk mengembangkan kreativitas mahasiswa dalam bidang seni dan sastra, maka dicetuskan program Creative GeoArt. Program ini sebagai bentuk ekspresi seni mahasiswa yang content (isi) nya berkaitan dengan pendidikan geografi. Segala jenis karya seni maupun sastra dapat diciptakan mahasiswa, baik berupa seni music, lagu, drama, puisi, gambar, lukisan, karikatur, desain, dan lainnya yang pada intinya karya seni ataupun sastra tersebut terkait dengan pendidikan geografi.

6.  GeoTrip
Pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan geografi tidak hanya dilakukan di dalam kelas. Tetapi juga sebagai wujud mendalami ilmu geografi dilakukan dengan kegiatan kunjungan lapangan (GeoTrip). Kegiatan ini berupa kunjungan lapangan dengan kegiatan observasi dan penggalian data geografi secara langsung di lapangan dengan bimbingan dari dosen prodi pendidikan geografi. Harapannya, kegiatan ini dapat dijadikan wadah pengembangan ilmu pengetahuan khususnya bagi mahasiswa dan kemudian akan dikembangkan bagi siswa-siswa sekolah, khususnya di tingkat SMP/MTs dan SMA/MA.

7.  GeoEvent
GeoEvent merupakan salah satu program yang dipersiapkan untuk diisi oleh even-even yang dirancang dan dilaksanakan sesuai dengan momen-momen tertentu. Misalnya, dalam rangka mempringati hari bumi dilakukan kegiatan kemah bakti geografi, olimpiade geografi tingkat SMP dan SMA, penanggulangan bencana, dan sebagainya. 

***

MENULIS UNTUK KEABADIAN



Menulislah, maka tulisanmu akan bertahan lebih lama dari umurumu. Tentunya jika tulisan tersebut tidak kau hanguskan sendiri atau dihanguskan oleh generasi setelahmu.

Begitu banyak karya tulis yang melegenda. Eksistensinya masih dirasakan sampai detik ini, sementara para penulisnya sudah lama berkalang tanah, ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu.

Jika seseorang ingin mempelajari teori-teori dalam ilmu biologi, maka bisa dipastikan ia akan bertemu dengan teori evolusi yang diciptakan oleh Charles Darwin. Darwin mengabadikan teori tersebut dalam buku master peace - nya yang berjudul “the origin of species”. Buku itu begitu melegenda, sampai saat ini gaungnya masih dirasakan. Bahkan buku-buku biologi anak sekolah masih memuat teorinya sebagai landasan dalam mempelajari ilmu biologi. Meski menuai kontroversi, teori yang ditulis oleh Darwin ini harus diakui memiliki pengaruh yang besar bagi perkembangan teori-teori ilmu biologi, bahkan dalam perkembangkannya lebih lanjut diterapkan juga pada ilmu-ilmu sosial yang dikenal dengan teori “Darwinisme Sosial”. Teori Darwinisme sosial salah satunya diadopsi oleh Feriderich Ratzel seorang geograf dari jerman, yang menyempurnakan teori geografi politiknya yang dikenal dengan teori “organic state” atau negara organik. Dalam teorinya itu, ia mengemukakan bahwa “ suatu negara mirip dengan makhluk hidup, ia lahir dan tumbuh mulai dari bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, tua dan akhirnya mati. Dengan demikan, negara sebagaimana makhluk hidup harus memiliki ruang untuk melangsungkan kehidupannya. Teori organic state ini kemudian oleh Housofer berkembang menjadi teori Labensraum (teori ruang hidup). Dan sampailah penerapan teori ini kemudian pada aksi-aksi ekspansi wilayah yang dilakukan oleh Jerman yang dipimpin oleh Adolf Hitler pada waktu itu, dengan dalih memperluas ruang hidup negara Jerman.

Karl Mark sebagai tokoh pendiri idiologi sosialisme-komunis juga salah satunya mencomot teori Darwin sebagai landasan untuk menyusun teorinya. Karl Mark juga mewariskan karya tulis yang tak kalah melegendanya. Ia menulis bukunya yang berjudul “Das Capital”, bahkan saking berpengaruhnya buku ini, seolah dijadikan kitab suci bagi para penganut ideology sosialis-komunis. Di Indonesia sendiri buku ini sempat diberangus karena dianggap terlarang dan berbagaya, mengingat terjadinya tragedi G30-September pada tahun 1965.

Dalam bidang Ilmu lingkungan, Rachel Carson merupakan orang yang dikenal dengan bukunya yang melegenda “Silent Spring”. Bagaimana tidak, buku itu begitu terkenal setelah ia menguraikan perihal peristiwa sepinya burung-burung ketika musim semi. Padahal pada mulanya kicauan burung sangatlah ramai ketika musim semi tiba. Ia memaparkan kejadian tersebut salah satunya dipicu oleh semakin banyaknya zat-zat pencemar lingkungan, terutama yang dihasilkan dari limbah-limbah industri. Inilah awal mula perjuangan terhadap lingkungan dimulai, dan berlanjut sampai saat ini.

Di bidang ilmu Geologi, siapa yang tak mengenal Van Bemmelen. Seorang geolog dari Belanda semasa pemerintahan Hindia Belanda masih bercokol di Indonesia. Ia menulis bukunya yang terkenal dalam bidang geologi yang berjudul “Geology of Indonesia”. Ada kisah menarik ketika buku ini pertama kali ditulis. Naskah asli yang telah selesai ditulis Van Bemellen pada waktu itu disita oleh Tentara Republik Indonesia. Mengingat pada waktu itu terjadi pergolakan rakyat Indonesia terhadap pemerintah Hindia Belanda dalam rangka merebut kemerdekaan. Bahkan pada waktu itu, Van bemmelen ditahan dalam waktu beberapa lama. Naskah yang telah bersusah payah dibuat itu tak kembali juga ke pemiliknya. Akhirnya Van Bemmelen pasrah dengan nasib yang menimpanya. Namun ia tidak berhenti sampai disitu. Ia bahkan menulis ulang naskah buku itu dengan segala kemampuan yang dimiliki, akhirnya buku itu sampai saat ini masih bisa dijadikan rujukan dalam mempelajari Geologi terutama di Indonesia.    

Di dunia islam, kita mengenal Imam Ghazali. Beliau adalah salah satu ulama sufi yang amat termasyhur. Mengapa ia begitu terkenal, maka lagi-lagi karena karya tulisnya. Ia mengarang ratusan kitab-kitab agama, dan salah satu yang paling terkenal adalah kitab Ihya’ Ulumuddin - nya. Kitab ini menjadi pegangan pengajaran ilmu-ilmu agama di pesantren-pesantren dan sekolah agama sampai saat ini. Dan saking pentingnya kitab ini sampai diterjemahkan ke berbagai bahasa. Tak luput juga di Indonesia, bahkan terjemahannya pun terus mengalami cetak ulang dan revisi, saking banyaknya permintaan.

Karya tulis yang melegenda begitu banyaknya. Tak cukup untuk saya tuliskan di sini, mengingat keterbatasan pengetahuan yang saya miliki. Lalu apa poin penting dari semua ini? Jawabnnya tentu adalah pentingnya sebuah karya tulis. Profesor Ida Bagus Mantra, seorang pakar Demografi UGM, di awal bukunya ia menulis sebuah nasehat yang pernah diutarakan oleh Frangklin, “jika anda ingin tidak dilupakan orang segera setelah meninggalkan almamater, maka tulislah sesuatu yang patut dibaca atau berbuatlah sesuatu yang patut diabadikan”. Itulah pentingnya menulis. Karena menulis adalah bekerja untuk keabadian. Begitu dahsyatnya sebuah karya tulis. Meski ditulis ratusan bahkan ribuan tahun yang lampau, tetapi seakan mampu membuat penulisnya seolah abadi, meski telah lama tiada. Bisakah kita seperti penulis-penulis hebat itu? Jawabannya tergantung bagaimana kemauan dan kerja keras kita ! selamat menulis !!


Korleko, 31 Agustus 2016

SEMINAR DAN KULIAH UMUM GEOGRAFI



Pancor – Sebagai upaya meningkatkan wawasan dan pengetahuan mahasiswa di bidang Akademik, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Geografi menyelenggarakan kegiatan Seminar dan Kuliah Umum. Kegiatan ini dilakukan pada hari Ahad, 10 Januari 2016 bertempat di ruang Auditorium Siti Rauhun STKIP Hamzanwadi Selong. Kegiatan ini mengusung tema “Pengenalan Model Pembelajaran Bina Lingkungan pada Mata Pelajaran Geografi dalam Meningkatkan Minat Belajar Peserta Didik”.

Kegiatan ini dimulai pada pukul 08.00 Wita dan berakhir pada pukul 12.00 Wita. Sejumlah 70 peserta hadir dalam kegiatan ini yang terdiri dari sebagian besar mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi STKIP Hamzanwadi Selong. Beberapa orang alumni dan beberapa mahasiswa juga berasal dari program studi lainnya. Pada kegiatan pembukaan, hadir pula dari kalangan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STKIP Hamzanwadi Selong dan juga Ketua Program Studi Pendidikan Geografi STKIP Hamzanwadi Selong, yakni bapak Drs. Suroso, M.Si yang sekaligus membuka acara.

Dalam sambutannya, bapak Drs. Suroso, M.Si menyampaikan betapa pentingnya kegiatan akademik semacam Seminar dan Kuliah Umum ini untuk kegiatan peningkatan kualitas atmosfer akademik. Selain itu, ia juga menegaskan bahwa kegiatan-kegiatan akademis semacam ini harus terus ditingkatkan, sehingga ke depannya mahasiswa dapat lebih berkualitas  lagi. Tidak hanya secara formal dan seremonial, ia juga menyarankan agar mahasiswa dapat membangun atmosfer akademik yang baik. “polanya dapat dilakukan dengen membentuk “arisan intelektual” ungkapnya. Arisan intelektual yang dimaksud adalah kegiatan diskusi nonformal yang bisa saja dilakukan oleh mahasiswa dengan kumpul-kumpul bersama di tempat yang diinginkan dengan tema-tema tertentu yang berkaitan dengan ilmu kependidikan maupun ilmu geografi. Ia juga menekankan untuk menjadi cerdas itu tidak perlu terlalu bergantung terhadap ada atau tidak serta besar atau kecilnya biaya, namun ia lebih menekankan adanya kemauan dan usaha keraslah yang dapat meningkatkan kemajuan dan kesuksesan bagi mahasiswa.

Hadir sebagai pemeteri kegiatan tersebut yaitu Hasrul Hadi, M.Pd selaku pemateri pertama yang merupakan dosen tetap di Program Studi Pendidikan Geografi STKIP Hamzanwadi Selong. Selain itu hadir pula Ramli Akhmad, S.Pd yang merupakan mahasiswa Pascasarjana Universitas Pendidikan (UPI) Bandung. Ia merupakan salah satu penerima beasiswa Lembaga Penyedia Dana Pendidikan (LPDP) dari Propinsi NTB. Kedua pemateri ini merupakan alumni Program Studi Pendidikan Geografi STKIP Hamzanwadi Selong.

Dalam paparannya, pemateri pertama lebih menekankan pada pentingnya Pendidikan Lingkungan Hidup secara umum, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun di masyarakat. Lebih spesifik ia menguraikan tentang pentingnya penanaman etika lingkungan melalui Pendidikan Lingkungan Hidup. Hal ini mengacu pada berbagai permasalahan lingkungan yang terjadi akhir-akhir ini. Harapannya, melalui Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) diharapkan dapat memotong mata rantai perbuatan perusakan lingkungan, sehingga generasi ke depan dapat menjadi generasi yang peduli lingkungan.

Sementara itu pemateri ke dua lebih menekankan pada implementasi model pembelajaran bina lingkungan di sekolah, khususnya di tingkat SMA. Ia memaparkan niatan pemerintah membentuk Negara Indonesia yang berporos maritime (kelautan) diselaraskan dengan kurikulum pendidikan. Sehingga hal tersebut juga harus dijabarkan oleh guru selaku pelaksana kurikulum dalam pererencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi pembelajarannya di sekolah. Harapannya geografi sebagai mata pelajaran di sekolah dapat dijadikan sarana keilmuan yang dapat mengatasi masalah maupun mengembangakan potensi di bidang kemaritiman tersebut.

Secara keseluruhan, kegiatan Seminar dan Kuliah Umum ini berlangsung dengan lancar dan atraktif. Diwarnai pula dengan adanya hiburan berupa pertunjukan musik oleh mahasiswa, serta pembagian dorprize bagi peserta yang dapat menjawab pertanyaan dari pemateri maupun panitia, sehingga acara ini terasa lebih semarak.

FIELD TRIP GEOGRAFI DI KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG RINJANI


Otak Kokok Joben  - Sebagai tindak lanjut kegiatan seminar dan kuliah umum pada tanggal 10 Januari 2016, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Geografi STKIP Hamzanwadi Selong mengadakan Field Trip (kegiatan lapangan) pada hari Senin, 11 Januari 2016. Kegiatan ini berlangsung di Resort Joben yang masuk ke dalam Seksi Pengelolaan Wilayah II Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Kawasan Taman Nasional ini meliputi tiga desa, yaitu Desa Peringgajurang, Desa Montong Betok dan Desa Montong Gading. Kegiatan ini diikuti oleh 25 orang peserta yang didampingi oleh 3 orang dari unsur dosen dan alumni. Peserta kegiatan ini khususnya merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi STKIP Hamzanwadi Selong, dari 3 angkatan yaitu semester 2, 4 dan semester 6.

Sebagai upaya memahami lebih dalam mengenai upaya konservasi di Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, kegiatan ini mengusung tema “Biodiversity di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani”. Sebagai misi utama dari kegiatan ini adalah dapat disusunnya sebuah buku oleh peserta yang membahas mengenai keanekaragaman hayati di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, Khususnya di Kawasan Resort Joben. Terlebih dahulu, telah disiapkan lembar observasi dan wawancara terkait berbagai hal yang menyangkut keanekaragaman hayati di lokasi field trip. 

Kegiatan awal dimulai dengan pembentukan kelompok yang dipimpin langsung oleh koordinator lapangan dari unsur panitia. Selanjutnya ada beberapa pengarahan yang disampaikan dosen maupun alumni guna kelancaran acara ini. Acara inti berupa penyampaian beberapa informasi penting oleh pemandu. Sebagai pemandu hadir dari pihak pengelola Taman Wisata Gunung Rinjani khususnya di resort Joben, yaitu bapak Wasmat. Setelah menyampaikan informasi penting, maka dilakukan kegiatan pengenalan flora dan fauna serta berbagai hal yang terkait dengan keanekaragaman hayati di kawasan resort Joben Taman Nasional Gunung Rinjani. Pemandu menjelaskan berbagai macam jenis tanaman maupun hewan yang hidup di lokasi ini, sementara para peserta field trip mencatat penjelasan, sambil sesekali bertanya dan mengamati jenis flora dan fauna yang dijelaskan.  Adapun flora dan fauna tersebut sebagian besarnya murni berasal dari lombok, meski ada beberapa flora yang menurut penuturan pak Wasmat berasal dari luar pulau.

Kegiatan field trip dimulai dari kawasan sekitar lokasi perkemahan dan berakhir di lokasi wisata pemandian dan air terjun Otak Kokok Joben. Sambil menyusuri kawasan hutan, melewati perbukitan maupun anak sungai, meski cukup menguras tenaga, para peserta tetap antusias dan bersemangat mengikuti kegiatan ini. Acara ditutup dengan kegiatan evaluasi dan pengarahan dari pendamping. Sebagai hiburan, sebelum akhirnya kembali ke kempus, para peserta menikmati jernih dan segarnya air kolam dan air terjun di lokasi wisata Otak Kokok Joben, sehingga para peserta seolah diterapi dan terbebas dari rasa lelah yang dialaminya.

***

PELAJARAN BERHARGA DARI SEORANG BAPAK



Saya baru sempat menuliskannya sekarang. Sebenarnya usai ngobrol santai itu, saya ingin sekali menuliskannya. Meski terlambat, namun setidaknya saya masih ingat betul apa yang diceritakannya.

Pagi itu, saya sedang berada di kamar kost. Saya biasanya melakukan bersih-bersih kamar sebelum melanjutkan aktivitas lain yang sifatnya akademis.

Untuk menghilangkan pengapnya kamar saya membuka pintu dan jendela. Udara pagi ditambah hangatnya mentari di pagi itu cukup menambah semangat. Di luar sana, tepat di sebelah kanan jendela saya terdapat keran air yang biasa kami manfaatkan airnya untuk mencuci pakaian, berwudhu, cuci tangan dan aktifitas bersih diri lainnya. Terlihat seorang bapak tua yang sedang mencuci pakaiannya. Dengan posisi duduk dengan bak berisi rendaman pakaian di depannya dan dikuceknya perlahan.

Perlu diketahui, ia adalah pedagang martabak yang juga satu kost dengan saya. Kamarnya kebetulan berdekatan dengan kamar saya. Ia tinggal sendirian saja di kamar itu. Namun, kebanyakan hanya singgah sebentar lalu pergi, mengingat ia juga memiliki kontrakan lain tidak jauh dari kost yang dihuni bersama istri dan seorang anaknya yang masih kecil.

Sambil mencuci ia mulai membuka pembicaraan ringan dengan menyapa dan berbasa basi. Saya pun menimpali dengan baik. Sampai pada akhirnya ia mulai bercerita tentang keluarganya, terutama mengenai anak-anaknya. Ia mempunyai empat orang anak. Anak pertama dan ke dua perempuan, sementara anak ke tiga dan keempat adalah laki-laki. Anak pertamanya sudah menikah, anak kedua masih kuliah semester lima, anak ke tiga masih sekolah di SMP dan anak ke empat masih duduk di bangku SD.

Ia menceritakan nasib anak pertamanya yang kurang beruntung dalam kehidupan rumah tangganya. Sebelum menikah, sang bapak berpesan agar anaknya benar-benar memanfaatkan waktunya untuk belajar. Bahkan setamat sekolah SMA sang bapak sanggup menguliahkannya, asal belajar dengan baik. Selama sekolah, ia pernah dilihat dibawa oleh seorang pemuda yang kelihatannya bukan pemuda baik-baik. Ancamanpun di berikan ke putri pertamanya itu. Ia tegaskan bahwa anak gadisnya itu boleh memilih, serius belajar atau menikah saja jika tidak serus sekolah. Namun si anak minta untuk tetap sekolah.

Namun sayang seribu sayang, kejadian memalukan menimpanya. Anaknya dihamili oleh seorang kernet bus antar propinsi yang berasal dari salah satu daerah di jawa barat. Singkat cerita, anaknya itu terpaksa dinikahkan dengan kernet itu. 

Untung tak dapat diraih, malang tak bisa dibendung. Putri pertama sang bapak mengalami penderitaan dalam menjalani kehidupan pernikahannya. Suaminya tidak bertanggung jawab dalam menafkahinya. Setelah usut punya usut suaminya itu hanya mencari uang untuk orang tuanya yang kondisinya sangat miskin. Mereka tinggal di terminal, ayahnya menjual rokok keliling sementara ibunya tidak bekerja apa-apa. Namun bukan itu yang disesalkan, disamping uang untuk orang tuanya, uangnya juga habis di meja judi dan untuk membeli minuman keras.

Tidak saja sampai di situ, suatu ketika putri pertama sang bapak mengalami kecelakaan sehingga ia harus dirawat inap di rumah sakit. Tak sesen pun ia dibantu oleh suaminya dalam biaya berobat itu. Sang bapak harus rela membiayai anaknya meski anaknya telah bergantung pada tanggung jawab sang suami. Suaminya bahkan jarang muncul untuk menemani istrinya disaat ia sakit.

Sang bapak akhirnya memanggil menantunya yang tidak bertanggung jawab itu. Ia membicarakan bahwa semestinya menantunya itu lebih bertanggung jawab. Seandainya pun ia kesulitan dalam mencari rezeki, sang bapak siap membantu. Pernah suatu ketika sang bapak memberikan kepercayaan kepada anak menantunya itu untuk menjual tong gas elpiji sepulangnya bekerja sebagai kernet bus. Namun, tak berjalan mulus mengingat tidak dikerjakan dengan serius dan tekun.

Sebenarnya berbagai upaya telah dilakukan sang bapak untuk membantu perekonomian anaknya. Namun karena tidak pernah berjalan dengan baik akhirnya sang bapak tak tahu harus bagaimana dan berbuat apa. 

Lain cerita lagi dengan anaknya yang kedua. Meskipun memiliki keterbatasan, namun setidaknya dapat membuat sang bapak tidak kecewa. Bagaimana tidak, anaknya itu mengalami keterbatasan berupa sering lupa. Kadang-kadang bapaknya sendiri dipanggil om, mas atau pak dhe. Ketika ditanya mengenai sesuatu biasanya si anak akan lama menemukan jawaban dari pertanyaan sederhana sekalipun. Namun sang bapak cukup bersyukur karena anak ke duanya itu rajin bersekolah.

Rasa mengganjal di hati sang bapak ternyata juga datang dari tingkah polah anak ke tiganya. Karena pergaulannya yang tak terkontrol pernah anaknya itu terjerumus menjadi bagian dari komunitas Punk. Nongkrong tak jelas, ngamen di jalanan dan melakukan berbagai kegiatan tak bermanfaat lainnya. Sehingga suatu hari sang bapak mengancam anaknya itu. Ia mengatakan meskipun usia sudah tak muda lagi, tapi ia masih punya tenaga untuk membuat anak laki-lakinya itu babak belur jika tidak mengubah tingkah lakunya. Syukurnya anaknya itu nurut dan tak lagi bergabung dengan komunitas Punk, meskipun sifat nakalnya masih tetap ada.

Anaknya yang paling kecil saat ini masih bersekolah di salah satu SD di Surakarta. Tidak banyak yang diceritakan mengenai anaknya yang satu ini. Namun setahu saya, anak itu tidaklah terlalu nakal, relatif sama dengan anak-anak seusianya yang nakalnya masih dalam taraf yang wajar.

Ceritanya pun berakhir seiring dengan berakhirnya bilasan cucian yang terakhir. Saya hanya menyimak dan sesekali mengangguk serta bertanya dan menanggapi ceritanya.

Saya salut dengan perjuangan bapak ini dalam menghidupi keluarganya. Ia rela begadang berjualan martabak demi anak dan istrinya. Yang saya salutkan juga adalah ketaatannya dalam beribadah, terutama shalat berjamaah. Hampir setiap waktu shalat ia laksanakan secara berjamaah di masjid di dekat kost. Biasanya meskipun sibuk berjualan martabak, ia akan menghentikan aktivitasnya itu ketika adzan berkumandang. Dengan demikian para pelanggannya juga harus sabar menunggu hingga ia selesai melakukan shalat berjamaah di masjid. Biasanya ia akan meninggalkan gerobak martabaknya dan menempelkan tulisan di depannya yang bertuliskan “maaf sedang shalat”. Subhanallah, sungguh jarang saya menemukan orang seperti ini di saat-saat ini dengan hiruk pikuk kesibukan orang-orang mengejar dunia karena tuntutan ekonomi.

Bapak ini juga saya kenal sebagai orang yang ramah dan murah senyum. Dalam berkomunikasi biasanya ia tersenyum dan berbicara sopan. Selain itu ia juga memiliki sifat yang bertanggung jawab. Pada bulan Ramadhan yang telah lewat, kebetulan saya tidak pulang ke Lombok. Jadi, kegiatan berpuasa dan ibadah lainnya saya lakukan di tanah Solo ini. Kami yang tidak pulang kebagian jadwal untuk ceramah setelah shalat subuh, termasuk si bapak ini. Meskipun ia tidak tamat sekolah SD tapi ia benar-benar bertanggung jawab dengan amanah yang diberikan kepadanya. Menurut ceritanya, ia hanya sampai kelas tiga SD, setelah itu putus sekolah karena memilih untuk membantu keluarga menambah penghasilan. Meski demikian, syukurnya ia masih bisa membaca. Ia meminta saya untuk membuatkannya muqaddimah atau pembukaan ceramahnya. Saya pun menuliskannya di selembar kertas dan kemudian dibacanya ketika melakukan ceramah itu. Ia menyampaikan ceramahnya dengan bersemangat, meskipun tidak ada latar belakangnya sebagai penceramah, atau berbicara di depan umum.

Ia juga sering menjadi imam di masjid ketika shalat berjamaah. Meskipun kadang-kadang lupa lanjutan ayat yang dibacanya. Sepengetahuan saya, ia biasanya mendengarkan lantunan ayat-ayat suci alqur’an dari radionya ketika ia sedang melayani pelanggannya ketika berjualan martabak. Kemungkinan menghafal ayat-ayat itu dilakukan dengan mendengarkan dari radio itu.

Saya benar-benar berpikir dan mendapat pelajaran dari kehidupan sang bapak. Saya belajar bagaimana nantinya ketika menjadi seorang bapak. Belajar bagaimana bertanggung jawab atas amanah yang diberikan. Belajar dari beberapa cerita kegagalannya dalam mendidik anak-anaknya. Belajar untuk istiqomah dalam beribadah dan berbuat kebaikan. Serta belajar bagaimana menghadapi berbagai macam cobaan yang hadir dalam kehidupan. Terus terang saya benar-benar belajar dari itu semua.

Surakarta, 23 November 2013


--Hasrul Hadi--

BERGRILYA; DARI PERKANTORAN HINGGA PELOSOK DESA



Dua minggu berlalu terasa begitu singkat. Namun di hari-hari yang telah terlewati, begitu banyak kejadian yang terkadang membuat saya merenunginya. Untuk menjernihkan pikiran, serta agar aliran darah menjadi lancar, menurut saya penting artinya untuk berbagi pengalaman kepada pembaca yang budiman. Oleh karena itu tidak bosan-bosannya saya memaksa jari-jari tangan saya untuk menari di atas keyboard laptop butut ini. Menari dan mengurai kisah yang tak ingin saya simpan sendiri dan tak sudi pula kiranya itu akan terkubur menjadi sebuah rahasia. 

Jikalau mata kita dipelototkan menuju judul tulisan ini, dapatlah kita tersangkut pada sebuah kata, yaitu “bergrilya”. Mungkin mendengar istilah bergrilya, imajinasi kita langsung meloncat menuju zaman-zaman dimana terjadi peperangan. Salah satu strategi yang digunakan adalah “perang grilya”. Perang yang dalam praktiknya menggunakan kelincahan gerakan menyerang musuh secara membabibuta dan spontan kemudian segera bersembunyi. Inilah yang dilakukan pejuang bangsa kita pada masa-masa penjajahan dahulu, mengingat keterbatasan senjata dan pasukan untuk melawan penjajah pada waktu itu.

Namun bukan perang melawan penjajah yang dibahas dalam tulisan ini, melainkan perang melawan ribetnya birokrasi, macetnya jalan pantura dan perang melawan diri sendiri yang selalu senang dengan zone nyaman. Bergrilya yang kami lakukan tujuannya sangat jelas, yaitu untuk mendapatkan data penelitian.

Saya tahu, terlalu banyak Muqoddimah alias pembukaan akan membuat anda bosan. Atau mungkin membuat anda mulai lapar. Baiklah, saya akan segera memulainya, sebelum pandangan anda berkunang-kunang karena kebanyakan kata pengantar.
**
Sudah dua minggu ini kami berada di Sayung Demak. Kegiatan penelitian ini memaksa kami harus bergrilya untuk mengumpulkan data yang berserakan. Baik dengan cara wawancara, observasi maupun menelaah dokumen-dokumen. Kegiatan wawancara dan observasi kami lakukan di sela-sela mengurus perizinan penelitian. Namun demikian, untuk studi dokumen masih mandeg, mengingat dokumen yang akan dipelajari masih entah dimana.

Terus terang, sampai saat ini (selama dua minggu), kami masih berkutat pada perizinan dan mohon bantuan data di kantor bapak-bapak dan ibu-ibu yang konon katanya “terhormat”. Untuk tujuan itu, kami harus rela mondar-mandir di jalur Pantura (Pantai Utara). Bisa dibayangkan, dengan kondisi jalanan yang ramai dengan kendaraan-kendaraan raksasa semacam truk gandeng, tronton, kontainer, bus-bus dan kendaraan pribadi yang berlalu lalang. Sewaktu-waktu, jika konsentrasi mengendarai speda motor memudar, maka ada kemungkinan anda akan “dicium” oleh bemper Truk Tronton. Disamping laju kendaraan yang ramai dan terkadang macet, disemarakkan dengan panas terik matahari yang menyengat kulit. Debu-debu yang berterabangan mengganggu pandangan, bau limbah cair pabrik-pabrik sepanjang jalur Pantura juga menambah eksotis suasana.

Pernah suatu ketika, kami harus bolak-balik sebanyak tiga kali tanpa istirahat dari kontrakan menuju kota Demak. Waktu yang diperlukan untuk menempuh rute itu adalah 30 menit. Berarti sekitar 180 menit (3 jam) kami habiskan hanya untuk menikmati jalur Pantura. Tidak terlalu lama memang, namun cukup menguras tenaga ketika perjalanan di siang hari saat matahari lagi lapar-laparnya.

Tragedi bolak-balik itu sebenarnya akibat ketoledoran kami. Setelah sampai di kantor Kesbangpol, kami hanya membawa surat izin dari kampus. Padahal salah satu persyaratannya adalah menyerahkan proposal penelitian. Terpaksa, kami harus kembali ke kontrakan dan mengambil proposal yang kami kira telah siap sedia. Namun ternyata, tertinggal di Solo. Terpaksa harus nge-print file yang syukur saja masih ada di laptop. Setelah kembali ke kota Demak dan cukup lama mencari, terdamparlah kami pada sebuah kedai pengisian pulsa. Dan ternyata di sana juga menyediakan jasa pengetikan termasuk print out. Itulah yang kami butuhkan saat itu. Dua proposal pun sudah berwujud lembaran-lembaran yang siap untuk dijilid. Dan sialnya lagi, lembar pengesahan yang telah ditandatangani dosen pembimbing tertinggal di kontrakan. Jelas, harus menelusuri Pantura lagi untuk mengambilnya.

Panasnya jalanan di jalur pantura, seiring sejalan dengan tidak efektifnya orang-orang kantor instansi dalam bekerja. Pekerjaan yang seharusnya selesai dalam beberapa menit saja harus ditunda-tunda sampai batas waktu yang tidak jelas. Ada beberapa pengalaman untuk yang satu ini. Sehingga ini cukup menyebalkan bagi kami.

Pertama, ketika kami memasukkan surat izin sekaligus mohon bantuan data di kantor Dinas Kelautan dan Perikanan. Surat itu kami masukkan pada hari selasa minggu lalu. Ternyata, kami diminta datang lagi pada hari jumat. Hal ini lantaran kepala dinasnya sedang berada di luar kota. Kami mengalah. Setelah memenuhi permintaan untuk datang hari jumat, kami diminta lagi datang hari senin. Alasannya, mereka akan pergi ke lapangan. Entah lapangan basket atau lapangan sepak bola. Dan sampai detik ini kami belum menindak lanjutinya lagi, mengingat kami disibukkan dengan grilya ke desa-desa. Kedua, ketika berkunjung ke salah satu desa yang akan menjadi lokasi penelitian kami, yaitu desa Sriwulan. Salah seorang staf yang diminta melayani kami untuk keperluan data harus menunda memberikan datanya, sehingga kami harus berkunjung lagi ke kantor desa itu. Tidak efektifnya pelayanan menurut saya terletak pada penghambur-hamburan waktu untuk keperluan yang kurang begitu penting. Hanya untuk memberikan kami data monografi desa, harus menunggu dua sampai tiga hari kedepan. Alasannya, akan ada kunjungan tamu penting. Ia harus menyiapkan segala sesuatunya. Namun yang kami tidak habis pikir, ketika melayani kami, bukannya informasi yang kami butuhkan yang dibahasnya, melainkan curhat tentang keluarganya. Tidak hanya curhat dengan masalah keluarga, ditambah lagi ia menceramahi kami, layaknya menceramahi “anak baru gede”. Bicara yang tidak substansial itu berlangsung hampir 25 menit. Sangatlah cukup untuk mengambil draf data monografi desa dan meminta kami memfotocopynya. Entahlah.

Tidak saja sampai disitu, kami merasakan sulit sekali mendapatkan data. Ini dikarenakan kemungkinan rendahnya kesadaran mereka akan pentingnya data. Mengutip kata kepala arsip daerah “mungkin instansi-instansi ini belum sadar betul arti pentingnya data sehingga menunggu bencana dulu baru merasa. Kepala arsip daerah kabupaten demak mengeluhkan data yang tak kunjung masuk dari berbagai instansi pemerintah lainnya. Padahal telah beberapa kali menyebarkan surat edaran untuk itu. Dalam undang-undangpun sudah diatur sangat jelas mengenai kearsipan ini. Namun banyak yang “mbalelo” dalam hal ini. Meskipun tidak semua instansi bigutu, kami merasakan betul kemiskinan data di kabupaten demak ini. Kami selalu pulang dengan tangan hampa. Jika tidak bisa melayani kami hari itu, alasannya adalah tidak adanya data. Hal yang menurut saya sangat aneh, padahal semua itu dikelola oleh orang-orang berpendidikan.

Bosan dengan urusan di kantor-kantor, kami menghilangkan penat dengan bergrilya di pelosok-pelosok desa. Mulai dari ujung barat bagian utara sampai ujung timur bagian utara. Untuk diketahui, Kami meneliti empat desa yang kesemuanya itu termasuk dalam Kecamatan Sayung dan berbatasan langsung dengan laut. Desa itu adalah Desa Sriwulan, Bedono, Timbulsloko, dan Surodadi. Berdasarkan informasi yang kami dapatkan, baik melalui media, warga, maupun peta, keempat desa tersebut merupakan desa yang paling parah tingkat abrasi dan banjir pasang air lautnya (rob). Inilah yang menarik perhatian kami ke ujung utara desa-desa ini.

Di sebelah barat adalah desa Sriwulan yang berbatasan langsung dengan Kota Semarang. Di bagian ujung utara desa ini yang berbatasan langsung dengan laut terdapat beberapa kenampakan. Ternyata abrasi telah meluluh lantakkan beberapa rumah warga dan memaksa mereka untuk berpindah tempat tinggal. Bisa dikatakan rumah-rumah itu hancur tak berbentuk rumah lagi. Meskipun ada beberapa rumah yang masih terlihat dengan tembok dan atapnya, namun sudah tidak berpenghuni. Mengingat lantai rumah itu selalu tergenang air laut. seperti perkamupungan yang mati. Begitu sepi. Mendengar cerita-cerita warga pun kami menjadi tercengang. Dimana dulunya di kampung itu begitu subur lahan sawahnya. Namun semua itu saat ini telah sirna. Sawah-sawah telah berubah menjadi lahan tambak. Dan lahan tambakpun terancam keberadaannya ketika pasang air laut terjadi. Pada waktunya semua akan tenggelam. 

Desa Bedono pun menyimpan cerita yang tak kalah memprihatinkannya. Telah terjadi relokasi warga di Dusun Tambak Sari dan Rejosari Senik, mengingat kampung mereka telah berubah menjadi sarang air laut. Terutama di kampung Senik. Dulunya dihuni oleh 206 kepala keluarga, dan saat ini mereka telah dipindahkan untuk tujuan keselamatan. Sementara di dusun Tambak Sari sekitar 6 kepala keluarga masih bertahan di sana. Kampung mereka yang berupa lahan mangrove yang becek di tengah laut sana tetap mereka huni. Alasanya, disanalah tempat kelahiran mereka dan semestinya disana pula ia akan menghabiskan sisa hidupnya. Padahal dulunya kampung mangrove itu dihuni oleh 65 kepala keluarga. Beralasan memang, selain alasan tempat kelahiran dan tempat mencari penghidupan, diujung utara pulau mangrove ini juga terdapat makam Syaikh Zakir yang mereka jaga. Makam itu adalah makam salah satu tokoh agama terkemuka dan masih satu darah dengan warga di Dusun Tambak Sari. 

Lain cerita dengan di Desa Surodadi dan Timbulsloko yang sudah memiliki pemecah gelombang sebagai penangkal abrasi maupun banjir. Mekipun demikian, beberapa rumah masih berptensi tergenang, karena tidak semua mampu dihalau oleh pemecah gelombang. Kami sempat berkunjung ke dua desa itu. Kami juga sempat sampai pada ujung jalan buntu. Di ujung jalan itu terdapat pangkalan perahu yang biasa digunakan melaut oleh warga setempat. Tepat ditengah hutan mangrove dengan sungai yang terlihat mulai mengering, perahu-perahu tergeletak begitu saja. Tak ada aktivitas nelayan disana. Seperti sengaja ditinggal dan menunggu air pasang agar dapat menggerakkan perahu-perahu tersebut. Ini wajar karena ini musim kemarau. Sehingga debit air sungai agak berkurang. Kami juga sempat bercengkrama dengan anak-anak kecil yang sedang bermain dipinggiran pantai dengan wajah-wajah polos mereka. Mereka terlihat seperti tanpa beban di tengah-tengah bencana yang mereka hadapi.

Begitu banyak kisah yang bisa diurai dari perjalanan ini. Namun, tak mampulah diceritakan secara detil semua itu disini. Saya yakin betul dengan ungkapan “Pengalaman adalah guru yang terbaik”. Saya selalu merenung dengan apa yang pernah saya alami. Selalu kita diajarkan hal-hal yang luar biasa dari apa yang pernah kita lakukan. Saya selalu menganggap itu sebagai suatu cerita yang menarik. Bukan sebuah keluhan, melainkan pengalaman yang harus diambil hikmahnya. Disyukuri, dan harus dibagi. Semoga saja menginspirasi.
Salam,
*** 
Demak, 1 Oktober 2013


--Hasrul Hadi-- 

MEMULAI CERITA DI SAYUNG DEMAK


Hari ini adalah hari kedua saya menginjakkan kaki di kecamatan Sayung Demak. Beberapa waktu lalu saya dan lima orang teman datang ke sini untuk tujuan survei awal guna melengkapi pembuatan proposal tesis. Kedatangan kami dahulu terasa begitu menyenangkan dan penuh dengan cerita-cerita seru. Namun cerita itu tidak akan saya uraikan lebih jauh, karena saya ingin bercerita tentang pengalaman hari ini. 

Pada hari kedua ini, tak kalah menariknya dibandingkan dengan kedatangan pertama saya. Ada beberapa hal yang menurut saya menarik untuk diceritakan. Oleh karenanya untuk menghindari kebosanan anda, maka langsung saja check it’s out.

Pada keberangkatan saya kali ini, saya ditemani hanya oleh seorang teman, namanya Fika. Ia adalah gadis yang berkacamata, menggunakan kawat gigi dan bersuara besar, namun semangat juangnya begitu tinggi, setauku itu. Berbeda dengan kedatangan saya sebelumnya yang berangkat dengan lima orang teman menggunakan tiga sepeda motor. Saat ini kami hanya berdua saja, namun sama menggunakan sepeda motor juga. Saya sebagai pengemudi dalam perjalanan ini, tentunya saya tidak tega melihat seorang Fika memboncengi saya, apa kata dunia kalau sampai dia jadi rider di depan dan saya duduk manis dan kemayu di belakang, kan lucu. 

Sebelum berangkat, kami memastikan segala perlengkapan yang akan dibawa. Setelah dirasa cukup lengkap, kami akhirnya berdoa. Start dari Solo menuju Sayung Demak sekitar pukul 08.30 WIB, dan kami berusaha menikmati perjalanan pada pagi yang cerah itu.

Ada hal menarik sebelum kami sampai di Demak. Pertama, ketika memasuki daerah Ungaran, kami nyaris menabrak bapak-bapak yang secara spontan berbelok di depan kami yang datang dari arah berlawanan. Tanpa merasa berdosa ia melakukan kecerobohan itu, kira-kira posisinya sekitar setengah meter di hadapan kami. Untung saja dengan sigap saya mengerem dengan sekuat tenaga dan menahan keseimbangan. Para pengendara motor di belakang kami yang ditelinga saya seperti suara ibu-ibu sampai berteriak histeris melihat kejadian di depan mata kepalanya itu. Namun untung saja Tuhan masih berpihak pada kami, dan itu tentu patut disyukuri sabesar-besarnya.

Tak hanya itu, ketika kami sampai di daerah Semarang, lebih tepatnya di kawasan terminal Terboyo kami berdua benar-benar terjatuh dari atas motor. Namun lagi-lagi kami mengucapkan syukur atas kejadian ini, kali ini juga kami terselamatkan. Sebenarnya, penyebab kecelakaan itu adalah ulah ugal-ugalan salah seorang pengendara motor yang juga terjatuh tepat di depan kami. Saya tak kuasa menghindar dari orang itu, ia terpleset oleh pasir di atas aspal dengan kondisi yang licin itu. Ramainya orang berlalu lalang, juga menjadi pemicu kecelakaan itu. Tepatnya dapat dikatakan sebagai tabrakan beruntun, kami terjatuh tepat setelah ia terjatuh terlebih dahulu. Untung saja, ia juga sepertinya tidak mengalami luka yang cukup parah dan bisa melanjutkan perjalanannya. Begitu pula dengan kami, hanya sedikit luka di tangan saya yang sedikit perih dan ditambah dengan panas terik matahari yang menyengat kulit. Namun semuanya baik-baik saja. Fika tidak apa-apa, namun roknya yang tepat di bagian lutut sedikit sobek. Begitu pula dengan celana jeans yang saya kenakan, hanya sobek sedikit saja, dan syukurnya kami dapat melanjutkan perjalanan dengan tenang.

Akhirnya kami sampai di Sayung Demak pada pukul 12.05 WIB, tepat setelah adzan zuhur berkumandang. Sesampai di sana, kami langsung menuju salah satu masjid yang bernama Masjid Jami’ Purwosari Sayung. Di Masjid inilah kami melaksanakan ibadah shalat Zuhur dan menunggu salah seorang teman. Ia adalah seorang warga asli Sayung yang bernama Hanif. Ia anak muda yang baik dan cerdas, saat ini menjadi relawan di PMI Demak.

Hanif kemudian mengajak kami ke rumahnya dan memperkenalkan kami dengan orang tuanya yang juga tak kalah baik dan ramahnya. Kami dipersilahkan duduk dan diperlakukan dengan baik layaknya tuan rumah yang baik kepada tamu pada umumnya. Suguhan makanan ringan dan minuman pun bermunculan di hadapan kami. Tak lupa kami juga memberikan bingkisan sebagai bentuk oleh-oleh kepada keluarga ini. Mereka begitu terbuka dan menyambut kedatangan kami dengan baik, semoga saja Allah membalas semua kebaikannya.

Beberapa menit ngobrol dan beramah tamah, Hanif mengajak kami ke rumah salah seorang keluarganya yang katanya sebagai pemilik dari rumah kosong yang akan kami tempati. Sesampai di sana kami bertemu dan berbicara mengenai niat kami untuk menempati rumahnya untuk sementara waktu, sampai kegiatan penelitian kami berakhir nantinya. Bapak itu pun berbicara banyak hal tentang rumahnya itu. Yang tak lupa pula harus disyukuri juga, kami tidak dibebankan untuk membayar biaya menginap, melainkan hanya membayar tagihan listrik dan air yang kami gunakan di rumahnya itu, Alhamdulillah.

Setelah pembicaraan usai, kami kemudian pamit dan ia memberikan kunci rumah itu kepada kami. Langsung saja, kami seperti bakti sosial membersihkan tempat baru kami ini. Rumah ini dapat dikatakan cukup megah untuk ukuran rata-rata rumah di desa ini. Maklum, pemiliknya adalah salah seorang pengusaha tahu tempe yang sukses. Rencananya rumah ini didirikan untuk putranya yang akan menikah nantinya sekitar enam bulan mendatang, namun saat ini putranya itu masih menunggu calon istrinya yang masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Semarang sana. Kondisi rumah ini cukup baik, dan menurut Hanif rumah ini baru jadi dibuat sebelum puasa lalu.

Akhirnya semuanya beres, mulai dari teras depan dalam, kamar tidur, kamar mandi, halaman depan juga bersih dari sampah yang sebelumnya berserakan dan tak terawat dengan baik. Kami akhirnya dapat beristirahat malam ini dengan tenang. Ke depannya disinilah kami akan banyak berdiskusi tentang segala hal yang terkait dengan penelitian kami. Tentu saja juga sebagai tempat melepas lelah ketika seharian berjibaku dengan seabrek kegiatan kami dalam mengais data penelitian. Saya, Fika dan Hanif pada akhirnya menjadi penghuni baru di rumah ini. 

Besok pagi, tepatnya hari Minggu 15 September 2013, rombongan dosen dan beberapa teman akan berkunjung ke sini (Sayung) dalam rangka penelitian itu juga, mengingat ini adalah penelitian kami ini baigian dari dosen kami itu. Semoga saja cerita-cerita ke depannya bisa lebih menarik dan dapat diambil hikmah dan dapat dipetik pelajaran darinya. Harapan tidak boleh padam. Tentu saja saya terus berharap agar semuanya berjalan dengan baik. Hanya usaha dan doa yang kami lakukan, selebihnya hanya Allah lah maha menentukan.

Sayung Demak, 14 September 2013
--Hasrul Hadi--





Komentar