Sabtu, 24 November 2018

Catatan Pengajian Maulid Nabi 1440 H

Pada tanggal 12 Rabiul Awal 1440 H di Masjid Miftahul Jannah Desa Korleko berlangsung peringatan maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Peringatan tersebut diisi dengan kegiatan pengajian. Doktor Tuan Guru Haji Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc, MA hadir sebagai penceramah yang kemudian menguraikan hikmah dan hal penting seputar kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam kesempatan tersebut beliau menyampaikan beberapa hal penting antara lain tentang pentingnya mensyukuri kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW mengingat kelahiran beliau adalah anugerah sekaligus nikmat terbesar yang diberikan Allah SWT. Selain itu diuraikan pula keuntungan pahala bagi yang merayakan dan mengagungkan maulid Nabi Besar Muhammad SAW, terutama bagi yang menyiapkan acara, penyedia makanan, tamu pengajian, berkah makanan, dan sebagainya.

Hari ini, tepatnya hari Ahad, 17 Rabiul Awal 1440 Hijriah bertepatan dengan tanggal 25 November 2018 acara peringatan maulid kembali dirayakan. Kali ini dilaksanakan di Masjid Jami' Assholeh Desa Korleko. Ada beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan sebwlum acara pengajian tiba. Di antaranya acara khitanan masal dan juga cukuran masal. Ada hal yang menurut saya cukup menarik pada kegiatan sunatan masal dan cukuran masal ini. Jika khitanan masal dihajatkan bagi anak laki-laki yang belum dikhitan, maka cukuran dihajatkan bagi bayi yang baru lahir. Mungkin dalam tinjauan agama banyak diuraikan melalui dasar hadits nabi yang memerintahkan kita untuk mengakikah bayi yang baru lahir dengan menyembelih kambing, memberi nama dan mencukur. Namun, saya hanya ingin mencoba memandang dari perspektif yang berbeda. Misalnya dari segi aspek ekonomi, dengan adanya kegiatan khitanan dan cukuran masal yang diselenggarakan oleh pengurus masjid ini maka sedikit tidak cukup meringankan beban biaya bagi masyarakat kurang mampu. Karena pada umumnya, jika cukuran dan khitanan dilaksanakan secara mandiri oleh setiap masyarakat yang berhajat tentu mereka harus siap mengeluarkan biaya. Padahal kondisi ekonomi masyarakat tidak semuanya mampu. Inilah berkahnya berjamaah. Untuk biaya tenaga medis yang mengkhitan (sunat) misalnya, biayanya bisa ditanggulangi secara bersama, sehingga lebih hemat. Biaya untuk konsumsi (Snack dan makan siang) bisa ditanggulangi bersama dengan membawa dulang (Baki) berisi snack maupun makan siang yang sebelumnya diberikan kupon. Hanya saja penyembelihan hewan akikah tetap harus dilaksanakan secara mandiri bagi setiap anggota masyarakat. Akan tetapi setidaknya dengan melaksanakan secara masal, berjamaah atau bersama-sama beban biaya akam terasa lebih ringan. Selain itu, nuansa silaturrahmi juga terasa lebih kental. Ini disebabkan banyaknya masyarakat yang hadir di acara ini. Selain itu, budaya gotong royong juga lebih terasa.

Korleko, 25 November 2018

Minggu, 12 Agustus 2018

Suasana Mencekam di Lombok Pasca Gempa

Gempa yang terjadi berulang-ulang membuat kepanikan dan keresahan tersendiri bagi masyarakat Palau Lombok. Bagaimana tidak, gempabumi berkekuatan 6,4 Skala Richter pada hari Ahad, 29 Juli 2018 menghentak dan mengejutkan masyarakat Lombok. Korban meninggal mulai berjatuhan, rumah-rumah warga mengalami kerusakan, bahkan tak sedikit yang rusak total. Suara tangis silih berganti terdengar. Sirine mobil Ambulance seolah mengiringi tangis pilu para korban.

Tak cukup sampai di situ. Gempa susulan terus tetjadi. Bahkan kekuatannya melebihi gempa pertama. Ahad malam, 5 Agustus 2018 sekitar pukul 19.30 wita, gempa kembali mengguncang dengan kekuatan 7.0 SR dengan lokasi terparah berada di Kabupaten Lombok Utara. Ratusan korban meninggal dunia, disertai dengan ribuan korban luka. Tak hanya itu, gempa susulan terus terjadi. Pasca gempa utama (7SR) terjadi, tercatat gempa dengan kekuatan 6,2 Skala Richter. Hal ini menambah kerusakan dan korban jiwa di wilayah Kota Mataram dan sekitarnya.

Suasana semakin mencekam dengan merebaknya berbagai isu negatif. Ada isu akan terjadinya tsunami, gempa susulan yang lebih besar dan dahsyat, isu pencuri dan perampok, serta berbagai informasi tak jelas yang justru menambah suasana panik dan keresahan bagi masyarakat. Tetutama informasi yang tersebar cepat malalui media sosial.

Hampir di setiap rumah warga dipsang tenda-tenda darurat dari terpal dan bahan seadanya. Seolah tak ada bedanya antara masyarakat terkena dampak gempa dengan masyarakat tak terdampak. Mereka sama-sama merasakan kekhawatiran yang tinggi. Mereka dihantui oleh bayang-bayang akan terjadinya gempa susulan dengan kekuatan yang lebih besar. Sehingga merelakan diri tidur di bawah tenda darurat ketika malam tiba.

Doa-doa terus dipanjatkan. Hampir setiap masjid tak pernah sepi dari kegiatan istigosah, zikir dan doa bersama. Tak lain hanya untuk menenangkan diri, manjauhkan kekhawatiran dan keresahan serta tentunya sebagai harapan agar bencana gempa ini cepat berakhir dan kehidupan normal kembali seperti sedia kala.

Korleko, 12 Agustus 2018
Di bawah tenda darurat. Ditemani angin malam dan taburan bintang-bintang.
-HH

Rabu, 30 Mei 2018

MAHASISWA LPTK DAN PELUANG KERJA PASCA LULUS


Oleh :
Hasrul Hadi, M.Pd
(Dosen FKIP Universitas Hamzanwadi)

Wisuda menggambarkan acara seremonial kelulusan dan penetapan gelar dari perguruan tinggi. Tergambar senyum bahagia dan penuh haru dari para wisudawan maupun orang tua dari para wisudawan. Ini menandakan bahwa berakhirnya masa studi dan dibukanya lembaran baru pasca studi di dunia nyata. Yakni dunia masyarakat.
Kebahagiaan pada saat wisuda itu sering kali tidak bertahan lama. Dalam hitungan hari keceriaan pada saat wisuda itu berubah menjadi kegelisahan dan kegamangan. Sarjana yang baru saja lulus sudah mulai dengan pikiran-pikiran mengenai masa depan, khususnya masalah pekerjaan. Mulai muncul perasaan tidak nyaman terus bergantung kepada orang tua. Meski tidak semua sarjana di awal kelulusannya seperti itu, namun ini adalah kondisi umum yang dialami oleh sarjana yang baru saja lulus.
Info lowongan kerja di berbagai media masa maupun internet terus diburu. Sharing dan tukar informasi dengan teman dan sahabat tak henti dilakukan. Setiap ada lowongan kerja tak lupa ikut serta memasukkan lamaran. Namun mengingat persaingan yang begitu ketat sering kali membuat kemungkinan diterima bekerja menjadi semakin kecil, bahkan sirna.
Akhirnya kembali lagi pada kebingungan dan kegamangan. Pilihan terakhir, dari pada tidak bekerja, biasanya sarjana baru ini tidak perduli dengan bidang yang digelutinya selama kuliah. Apapun peluang kerja yang ada langsung diambilnya tanpa pikir panjang. Semua gengsi terpaksa dibuang jauh-jauh dan akhirnya cukup mampu menjadikannya bisa bertahan hidup meskipun dengan berbagai macam rintangan dan tantangan. Salah satu tantangan yang sering mengganjal adalah ketidaksesuaian pekerjaan dengan bidang yang digeluti selama kuliah. Hal ini terjadi karena pekerjaanlah yang mengatur si sarjana tadi bukan ia yang menentukan sendiri apa yang harusnya ia kerjakan. Sering kali fenomena ini menyisakan tekanan dalam batin mereka. Jadilah mereka pekerja-pekerja yang kurang bersemangat, sarat dengan keluhan. Masa depan tak seindah bayangan mereka dulu ketika masih kuliah.

Perlunya menciptakan peluang
Peluang itu sebaiknya bukan ditunggu, tapi diciptakan. Begitulah kira-kira ungkapan yang sering kita dengar dari para motivator. Tentunya itu merupakan ungkapan yang tidak salah. Masalahnya sering kali sarjana hanya menunggu, bukan menciptakan peluang kerja bagi diri mereka. Hanya sebagian kecil dari mereka yang bekerja berdasarkan hasil jerih payah mereka sendiri dalam menciptakan peluangnya. Sisanya hanya menunggu datangnya peluang kerja.
Sarjana yang lulus dari Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK) tentunya sudah paham akan tujuannya dipersiapkan menjadi seorang guru. Jika sarjana pendidikan ini memang serius untuk menjadi guru hendaknya itu harus sudah dipersiapkan sejak masa masih menjadi mahasiswa. Sehingga setelah lulus peluang menjadi guru semakin terbuka lebar. Sehingga tujuan yang diinginkan bisa diwujudkan lebih cepat dengan cara yang lebih mudah. Persiapan dan kerja keras adalah suatu hal yang penting untuk menciptakan peluang sekaligus mencapai apa yang kita inginkan. Bruce Lee pernah berkata “persiapan untuk hari esok adalah kerja keras hari ini”. Ini artinya jika ingin sukses di masa depan maka hari inilah yang menjadi penentunya. Kita isi dengan apa hari ini, kerja keras atau hanya santai saja. Pertanyaan ini kembali kepada diri kita masing-masing.
Menjawab kegelisahan dan kegamangan itu saya ingin memberikan sebuah gambaran bagaimana peluang menjadi guru itu bisa diciptakan. Terutama sejak masih menjadi mahasiswa aktif di sebuah LPTK. Pertama, mahasiswa hendaknya aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Terutama organisasi yang terkait langsung dengan bidang pendidikan di sekolah. Misalnya saja pramuka, PMR, Kelompok Karya Tulis Ilmiah, Marching Band, dan sebagainya. Aktif dalam kegiatan organisasi akan mengasah kemampuan mahasiswa dalam bidang kepemimpinan dan manajerial serta mengasah keterampilan mahasiswa dalam bidang organisasi yang digelutinya. Kedua, mahasiswa hendaknya melibatkan diri menjadi guru relawan (volunteer teacher). Terutama bagi anak-anak putus sekolah yang kurang mampu, membuka kelas sore non-formal untuk berbagai pengetahuan dan keterampilan seperti baca tulis, membaca alquran, kerajinan tangan, seni dan olah raga, membuat komunitas literasi seperti membaca dan menulis bagi anak-anak, dan sebagainya. Ketiga, dari dua langkah sebelumnya maka perlu adanya jejaring. Mahasiswa hendaknya membangun komunikasi dengan berbagai pihak terutama pihak sekolah untuk mendermakan ilmu dan keterampilan yang dimilikinya. Awalnya bisa saja menjadi relawan di sekolah yang bersangkutan, lambat laun sambil meningkatkan keterampilan dan kompetensi serta dedikasi yang tinggi, maka besar kemungkinan akan direkrut menjadi guru tetap di sekolah bersangkutan. Keempat, bisa saja dengan potensi diri berupa kompetensi dan keterampilan dalam bidang kepemimpinan dan manajerial yang diperoleh dari organisasi digunakan untuk menghimpun rekan sejawat yang nasibnya sama untuk membangun sebuah lembaga pendidikan. Baik berupa lembaga sekolah, lembaga pelatihan atau training, maupun lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pendidikan.
Memang, hasil pemikiran ini tak selamanya bisa mengantarkan pada tujuan menjadi seorang pendidik (guru). Mengingat berbagai kondisi yang dihadapi tidak sepenuhnya sama dan berulang. Namun semua itu tergantung dari seperti apa kita merencanakan serta bekerja keras untuk mewujudkan tujuan yang kita harapkan.

Korleko, 31 Mei 2018




Selasa, 29 Mei 2018

RENUNGAN DI BULAN PENUH RAHMAT


Saat ini kita sudah memasuki hari ke 14 dari bulan yang sangat mulia, bulan Ramadhan 1439 H. Sepertinya kita harus setiap hari mengevaluasi apa saja yang telah kita lakukan pada bulan ini. Terutama ibadah yang kita lakukan. Bagaimana dengan shalat wajib kita, apakah sudah tepat waktu atau belum, berjamaah atau belum. Bagaimana dengan shalat sunnah kita, Shalat duha, tahajjud, rawatib, dan shalat-shalat sunnah yang lain. Bagaimana dengan bacaan Al-Qur'an kita, rutin terjadwal, setiap ada waktu luang atau masih jarang membaca, menghafal dan memahami maknanya. Sedekah kita bagaimana, sudahkah kita memberikan rizki terbaik kita kepada sesama yang membutuhkan. Sudahkah kita berbuat baik kepada keluarga, kerabat dan sahabat-sahabat kita. Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Mari Kita Renungkan masing-masing.

Selamat Berpuasa, Semoga Berkah..!!!
Aamiin..!!

Rabu, 30 Mei 2018

--Hasrul Hadi

Jumat, 17 November 2017

MENULIS; ANTARA INSPIRASI, KEMATANGAN KONSEP DAN KONSISTENSI

Sumber : Google.com

Sering kali kita merasa bingung ketika hendak menulis. Dalam benak kita bertanya-tanya "mau menulis apa ya?". Kelamaan mikir akhirnya tidak jadi menulis. Kadang pula, ketika kita sudah berusaha menulis, tapi tak sampai juga ke ujung tulisan. Dengan kata lain kita sering berhenti menulis sebelum tulisan utuh dibuat.

Setelah saya membaca dan berpikir tentang sebuah inspirasi, saya kemudian mendapat sedikit pencerahan. Ternyata, selama ini kita kebanyakan menunggu datangnya inspirasi. Padahal, inspirasi begitu banyaknya dan bertebaran di muka bumi ini. Hanya saja mungkin kita belum terlalu aktif mencari dan menemukannya sebagai bahan tulisan.
Begitu banyak hal yang bisa kita tulis dari kepingan-kepingan perjalanan hidup yang kita jalani. Tak perlu jauh-jauh, diri kita sendiri misalnya, bisa jadi bahan tulisan. Keluarga, teman, sahabat, pekerjaan, berita yang berkembang, dan masih banyak lagi bahan untuk ditulis. Apalagi di era teknologi seperti saat ini. Tidak hanya informasi di dunia nyata seperti surat kabar mainstream, juga di dunia maya yang begitu melimpah ruah. Tinggal bagaimana kreativitas kita mengolahnya menjadi tulisan menarik dan bermanfaat.
Tema apa yang menurut kita remeh temeh justru bisa jadi konten tulisan yang menarik bagi orang yang kreatif. Kita perlu mengasah kereativitas dalam menulis, sehingga tulisan kita tidak terkesan kaku, tanpa ruh dan magnit yang menyedot perhatian para pembaca. Dari itu saya mencoba secara terus menerus berusaha belajar bagaimana menghasilkan tulisan menarik dan berkualitas. Saya punya keyakinan bahwa kompetensi di bidang apapun akan cepat dikuasai dan berpeluang menjadi expert jika jam terbang di bidang itu tinggi, artinya pekerjaan itu sering dan berulang kali kita lakukan. Termasuk kompetensi dalam menulis.
Kemudian, kembali sedikit saya singgung tentang masalah tulisan yang gagal jadi alias berhenti di tengah jalan. Penyebab utama masalah ini menurut saya adalah belum lengkap dan detilnya konsep di otak kita. Tentunya konsep yang terkait dengan topik yang akan ditulis. Sehingga wajar kemudian gagasan yang dituangkan dalam bentuk tulisan hanya sepotong. Itulah sebabnya mengapa kemudian kita perlu mematangkan konsep di otak sebelum menuliskannya. Begitu kira-kira.
Tapi apa pun teorinya, hanya intensitas menulis yang tinggilah yang akan berhasil menjadikan kita penulis. Karena sejatinya jika kita hanya berpikir tanpa berbuat, maka tak ubahnya seperti hanya melamun dan berangan-angan belaka. Bruce Lee pernah berkata "Aku tak takut dengan seribu jenis tendangan yang dilatih hanya satu kali, tapi aku hanya takut dengan satu jenis tendangan yang dilatih seribu kali". Apa maknanya? Jika kita sudah berkomitmen menjadi penulis mari kita tekuni dan hadapi segala resikonya. Menulis dan tekuni, tak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menekuni kompetensi yang lain sebelum kompetensi menulis benar-benar dikuasai. Ada semacam adegium tentang pendidikan di negara kita "pendidikan di negara maju menghasilkan orang-orang yang tau banyak tentang hal yang sedikit, sementara di negara kita pendidikan hanya menghasilkan orang-orang yang tau sedikit tentang hal yang banyak". Artinya kita perlu menciptakan expert-expert yang punya kompetensi mendalam yang bukan hanya tau serba sedikit. Termasuk expert dalam hal menulis.
Demikian kira-kira coretan yang bisa saya suguhkan di pagi yang agak mendung ini. Semoga bermanfaat. Korleko, 17 November 2017. --HH

Rabu, 15 November 2017

KEDEWASAAN DALAM BERPOLITIK

Sumber : Google.com

Akhir-akhir ini saya intens mengikuti perkembangan politik di desa saya, yakni Desa Korleko. Maklum, suhu politik pilkades sudah mulai agak menghangat. Letupan-letupan konflik sudah mulai terdengar di sana sini, meski intensitasnya masih kecil. Hal ini wajar, mengingat setiap calon kepala desa bersama dengan tim nya sedang berusaha sekuat tenaga agar dapat meraih simpati masyarakat pemilih. Meski belum ada bukti konkrit yang saya temukan, isu money politic sudah santer terdengar. Ini jelas menodai demokrasi kita yang sudah bersusah payah dibangun oleh para pendiri bangsa dengan menekankan pada pelaksanaan demokrasi yang bersih.
Fenomena terpolarisasinya masyarakat pada kelompok-kelompok calon kepala desa yang mereka dukung menimbulkan hal lain yang tak kalah penting. Apa itu? Semakin menguatnya soliditas masyarakat pada satu kelompok, dan merenggangkan hubungan dengan kelompok lainnya di satu sisi.Misalnya saja, saya mendengar cerita dari seorang warga bahwa ia memiliki sepupu yang rumahnya tepat berada di depan rumah warga tersebut. Pernah suatu ketika mereka berdua hendak sama-sama keluar dari rumah mereka masing-masing. Terpolarisasinya masyarakat pada kelompok-kelompok calon kepala desa yang mereka dukung menimbulkan hal lain yang tak kalah penting. Apa itu? Semakin menguatnya soliditas masyarakat pada satu kelompok, dan merenggangkan hubungan dengan kelompok lainnya di satu sisi. Misalnya saja, saya mendengar cerita dari seorang warga bahwa ia memiliki sepupu yang rumahnya tepat berada di depan rumah warga tersebut. Pernah suatu ketika mereka berdua hendak sama-sama keluar dari rumah mereka masing-masing.
Tersebab pilihan calon kades yang berbeda, mereka keluar gerbang rumah dengan saling membelakangi, saling memunggungu satu dengan yang lain. Jangankan saling tegur sapa, sepotong senyum pun tak ada. Misalnya saja, saya mendengar cerita dari seorang warga bahwa ia memiliki sepupu yang rumahnya tepat berada di depan rumah warga tersebut. Pernah suatu ketika mereka berdua hendak sama-sama keluar dari rumah mereka masing-masing. Tersebab pilihan calon kades yang berbeda, mereka keluar gerbang rumah dengan saling membelakangi, saling memunggungu satu dengan yang lain. Jangankan saling tegur sapa, sepotong senyum pun tak ada. Semula, senyum sapa dan interaksi positif antar tetangga terjalin cukup baik. Namun ketika pesta demokrasi (pilkades) sudah dimulai, maka tak jarang sesama tetangga, bahkan antar keluarga ada yang tak mau saling tegur sapa, mengingat pilihan calon kades yang berbeda. Pilihan calon kades yang berbeda, mereka keluar gerbang rumah dengan saling membelakangi, saling memunggungu satu dengan yang lain. Jangankan saling tegur sapa, sepotong senyum pun tak ada. Misalnya saja, saya mendengar cerita dari seorang warga bahwa ia memiliki sepupu yang rumahnya tepat berada di depan rumah warga tersebut. Pernah suatu ketika mereka berdua hendak sama-sama keluar dari rumah mereka masing-masing. Tersebab pilihan calon kades yang berbeda, mereka keluar gerbang rumah dengan saling membelakangi, saling memunggungu satu dengan yang lain. Jangankan saling tegur sapa, sepotong senyum pun tak ada. Semula, senyum sapa dan interaksi positif antar tetangga terjalin cukup baik. Namun ketika pesta demokrasi (pilkades) sudah dimulai, maka tak jarang sesama tetangga, bahkan antar keluarga ada yang tak mau saling tegur sapa, mengingat pilihan calon kades yang berbeda.
Mungkin tak tepat jika saya terlalu prematur membuat sebuah kesimpulan. Mengingat data

dan informasi yang saya peroleh masih sangat terbatas. Informasi yang telah saya peroleh pun perlu divalidasi agar terbukti kuat kebenarannya. Namun paling tidak kita bisa mengambil sebuah pembelajaran berharga dari fenomena tersebut. Tak hanya kejadian sederhana seperti itu. Percekcokan antar warga juga sering terjadi. Perdebatan akibat mengunggulkan calon masing-masing juga menjadi penyebab pertengkaran serius dan dendam berkepanjangan. Fenomena ini tak hanya terjadi di dunia nyata, bahkan sering juga terjadi di dunia maya melalui media sosial. Tak tepat jika saya terlalu prematur membuat sebuah kesimpulan. Mengingat data dan informasi yang saya peroleh masih sangat terbatas. Informasi yang telah saya peroleh pun perlu divalidasi agar terbukti kuat kebenarannya. Namun paling tidak kita bisa mengambil sebuah pembelajaran berharga dari fenomena tersebut. Tak hanya kejadian sederhana seperti itu. Percekcokan antar warga juga sering terjadi. Perdebatan akibat mengunggulkan calon masing-masing juga menjadi penyebab pertengkaran serius dan dendam berkepanjangan. Fenomena ini tak hanya terjadi di dunia nyata, bahkan sering juga terjadi di dunia maya melalui media sosial.
Perdebatan demi perdebatan, pertengkaran demi pertengkaran masih terus saja terjadi. Hal yang sepatutnya kita tanamkan dalam diri kita masing-masing adalah sikap terbuka (open mind) dengan segala macam perbedaan. Hindari panatisme politik secara berlebihan. Tanamkan sikap persaudaraan dengan kuat. Lawan politik berbeda dengan musuh politik. Bukan permusuhan yang hendak dibangun, melainkan persaingan yang sehat. Demokrasi yang bersih. Tujuan yang mulia demi kesejahteraan, keamanan, dan kemajuan kita bersama. Tanpa ada lagi gesekan-gesekan yang kemudian menjadi pemicu perpecahan bangsa. Lalu apa pelajaran berharganya? Tentunya dari fenomena tersebut kita tersadar dan
sedikit tidak fenomena tersebut telah menggambarkan bahwa kita masih belum dewasa dalam berpolitik. Demi perdebatan, pertengkaran demi pertengkaran masih terus saja terjadi. Hal yang sepatutnya kita tanamkan dalam diri kita masing-masing adalah sikap terbuka (open mind) dengan segala macam perbedaan. Hindari panatisme politik secara berlebihan. Tanamkan sikap persaudaraan dengan kuat. Lawan politik berbeda dengan musuh politik. Bukan permusuhan yang hendak dibangun, melainkan persaingan yang sehat. Demokrasi yang bersih. Tujuan yang mulia demi kesejahteraan, keamanan, dan kemajuan kita bersama. Tanpa ada lagi gesekan-gesekan yang kemudian menjadi pemicu perpecahan bangsa. Lalu apa pelajaran berharganya? Tentunya dari fenomena tersebut kita tersadar dan sedikit tidak fenomena tersebut telah menggambarkan bahwa kita masih belum dewasa dalam berpolitik.
Keterlibatan kita dalam peristiwa politik ini masih kekanak-kanakan. Kita belum bisa memaknai demokrasi yang sejati. Kita masih perlu belajar banyak tentang kedewasaan berpolitik. Jangan sampai peristiwa politik semakin memecah belah kita, bahkan semakin mengacaukan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Lalu bagaimana memulai belajar dewasa dalam berpolitik? Tentunya harus dimulai dari hal terkecil, mulai dari diri sendiri dan harus dimulai saat ini juga. Dan bagaimana hasilnya ke depan, itu semua bergantung kepada upaya perubahan yang kita lakukan masing-masing. Kita dalam peristiwa politik ini masih kekanak-kanakan. Kita belum bisa memaknai demokrasi yang sejati. Kita masih perlu belajar banyak tentang kedewasaan berpolitik. Jangan sampai peristiwa politik semakin memecah belah kita, bahkan semakin mengacaukan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Lalu bagaimana memulai belajar dewasa dalam berpolitik? Tentunya harus dimulai dari hal terkecil, mulai dari diri sendiri dan harus dimulai saat ini juga. Dan bagaimana hasilnya ke depan, itu semua bergantung kepada upaya perubahan yang kita lakukan masing-masing.
Korleko, 13 November 2017

Rabu, 08 November 2017

SUDAHKAH KITA MEMBACA HARI INI ?

Sumber : Google.com
Oleh : Hasrul Hadi Di suatu kesempatan, seorang anak kecil tak sengaja menginjak lembaran koran yang terlihat lusuh. Kemudan bapaknya menegur dengan serius. "Nak, kamu sudah baca habis belum lembaran koran yang kau injak, sudah faham belum apa isinya? Jangan pernah kau menjadi sombong, dengan sesuatu yang terlihat remeh temeh." Dada anak kecil itu bergetar. Ia kaget. Sesuatu yang dianggapnya biasa saja ternyata ditanggapi serius oleh bapaknya. Ia pun tersadar akan kekurangan dirinya selama ini dalam membaca. Ia kemudian memungut lembaran koran yang lusuh itu dan membacanya hingga tuntas, tanpa satu huruf pun terlewatkan. Sejak saat itu, ia bertekad dimanapun ia berada, kemanapun ia pergi, ia akan selalu ditemani oleh buku. Membaca menjadi suatu hal yang akrab dan lekat dengan dirinya. Siapakah anak kecil itu??? Anak kecil itu adalah TGH Hasanain Juaini. Pimpinan Ponpes Nurul Haramain Narmada. Sekjen PBNW Pancor. Penghargaan kelas dunia pun pernah diraihnya, Ramon Magsasay, Ashoka Award, Ma'arif institut, kalpataru, dan berbagai penghargaan lain pernah diperolehnya. Saya sungguh terinspirasi dengan beliau. Baik soal perjuangan lingkungannya, maupun keistiqomahan dalam membaca. Semoga kisah ini menginspirasi kita semua. Lalu kita bagaimana? Sudahkah kita membaca hari ini..!!! Korleko, 8 November 2017