Sabtu, 27 Juni 2020

ANALISIS DESKRIPTIF PERSENTASE

Metode survey merupakan salah satu pilihan metode yang dapat digunakan dalam sebuah penelitian. Sebagai sebuah metode untuk menggambarkan variabel secara deskriptif kuantitatif, metode ini banyak diperlukan sekaligus banyak pula digunakan. Namun sering kali permasalahan muncul ketika akan melakukan proses analisis data. Secara sederhana tahapan proses analisis data penelitian survey dengan analisis deskriptif persentase dapat dilihat sebagaimana saya tuliskan pada sebuah makalah singkat berikut ini --> Analisis Deskriptif Persentase

Semoga Bermanfaat

Korleko, 27 Juni 2020

Senin, 25 Mei 2020

PUASA BERMEDIA SOSIAL

Hari ini saya memutuskan untuk libur alias berpuasa untuk bermedia sosial. Keputusan ini saya ambil setelah merenung dan mengevaluasi kegiatan bermedia sosial saya selama ini. Berdasarkan hasil perenungan itu saya bisa menyimpulkan beberapa hal. Pertama, bermedia sosial itu jika tidak bijak maka hanya akan menghabiskan waktu dan tidak menghasilkan hal positif. Menghabiskan waktu tanpa menghasilkan apa-apa tentu menjadi sebuah kerugian besar bagi saya. Mengapa saya rela menghabiskan waktu saya hanya untuk bermedia sosial yang tidak jelas manfaat dan keuntungannya bagi saya. Mengapa saya tidak menggunakan saja waktu saya untuk hal-hal positif dan jelas manfaatnya? Kurang lebih itulah pertanyaan saya dalam hati.

Hampir setiap hari saya bermedia social. Saya memiliki beberapa akun dan aplikasi yang saya gunakan untuk bermedia sosial. Diantaranya facebook, instagram, twitter, whatsapp, dan youtube. Namun yang paling sering saya gunakan adalah facebook dan whatsapp. Puasa yang saya maksudkan bukan berarti menutup semua akun atau menghapus semua aplikasi media sosial saya, tidak. Saya hanya menyembunyikannya di sebuah folder di smartphone saya kemudian tidak menggunakannya jika tidak benar-benar diperlukan atau jika tidak memiliki tujuan dan manfaat yang jelas.

Untuk saat ini saya masih menyisakan satu saja akun media sosial saya yang akan saya gunakan yaitu whatsapp. Alasannya tentu karena alasan pekerjaan. Bukan alasan hiburan atau sejenisnya. Di beberapa grup whatsapp memang ada yang menggunakannya untuk bermain-main, melontarkan canda tawa, saling berkirim gambar-gambar meme dan video lucu, namun ada juga yang serius untuk pekerjaan, pengembangan karir, ilmu pengetahuan, dan produktivitas dan hal-hal positif lainnya. Maka saya menargetkan untuk menyeleksi grup-grup tersebut mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan untuk diikuti.

Sementara itu untuk pertanyaan mengapa saya “memarkir” akun media sosial saya seperti facebook, twitter, instagram dan youtube maka saya punya jawabannya. Jawaban pertama sudah saya sampaikan yaitu alasan menghabiskan waktu tanpa manfaat yang berarti. Selain itu beberapa konten-konten yang tidak penting seperti hoax, pornografi, kekerasan, perselisihan dan sejenisnya bertebaran di media sosial sehingga sering kali kita terbawa arus untuk terlibat di dalamnya. Energi dan pikiran kita terkuras hanya untuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Sangat merugikan bagi kita tentunya. Waktu habis, ilmu pengetahuan tak dapat, malah dosa dan penyakit hati dan pikiran yang semakin bertumpuk. Dan tidak menutup kemungkinan akan merembet berdampak pada menurunnya kesehatan fisik pula.

Saya coba uraikan secara singkat pengalaman bermedia sosial saya di masing-masing akun. Di facebook misalnya. Saya hanya melakukan scrolling membaca sekian banyak status teman-teman facebook saya yang bertebaran di dinding facebook saya. Mungkin ada beberapa teman yang memposting hal-hal yang positif, namun tak jarang juga yang memposting hal yang negatif. Hal ini mengingat banyak dan beragamnya latar belakang, kebiasaan dan pemikiran mereka. Ada yang senang mengkritik pemerintah, ada yang suka berjualan, ada yang suka narsis pamer-pamer foto, ada yang senang berdiskusi, ada yang sering curhat, ada yang menyampaikan gagasannya, ada yang berbagi pengalaman, sampai ada yang menyindir dan memaki-maki orang lain. Sangat beragam sekali, sehingga jika dibaca dan dikomentari satu persatu tentu waktu saya akan habis hanya untuk itu.

Jika di facebook saya banyak menemukan beragamnya kebiasaan dan pemikiran teman-teman maka lain halnya dengan twitter. Di twitter biasanya saya melihat apa perkembangan yang terjadi saat ini. Biasanya suatu yang hangat dibicarakan di twitter akan menjadi tranding topic. Dengan melihat tagar atau kata yang telah tranding topic maka kita bisa terlibat dalam pembicaraan tersebut. Biasanya yang sering tranding topic adalah seputar kejadian-kejadian yang menjadi konsumsi nasional. Misalnya masalah politik, semacam kebijakan, empati sosial, mengutuk perbuatan oknum tertentu dan sebagainya. Memang jika kita mengikuti itu semua maka juga akan kehabisan waktu, sehingga kita tidak bisa menjadi orang yang produktif. Selain itu pengguna-pengguna twitter juga sebagian tidak menyaring apa yang ditwittnya, terutama dari kata-kata kasar dan kotor dan tidak sopan, konten-konten pornografi, dan perdebatan-perdebatan yang bisajadi berujung pada pertengkaran, konflik bahkan perpecahan. Meski demikian tentu ada dampak positifnya juga.

Di instagram, biasanya kita disuguhkan gambar dan video. Nah kelemahan di instagram ini bagi saya selain hal-hal yang sudah saya sampaikan pada facebook dan twitter juga masalah banyaknya kuota internet yang habis, karena berbasis gambar dan video. Ini yang sebenarnya cukup membuat saya malas menggunakan instagram. Sering kali kita terlena melihat gambar-gambar bahkan menonton video. Sehingga tanpa sadar kuota internet menjadi semakin berkurang dengan begitu cepatnya. Ini mirip juga dengan menggunakan akun youtube. Di mana youtube adalah aplikasi media sosial dengan konten berbasis video. Tentu ini adalah alasan ekonomi. Mengingat kebutuhan ekonomi tidak hanya untuk kuota internet, tapi juga kebutuhan lainnya. Apalagi di masa-masa pandemic covid-19 seperti yang kita hadapi saat ini. Hampir semua sector ekonomi lumpuh. Sehingga memaksa kita untuk bekerja keras menghasilkan uang, selain itu sebagai konsekwensinya kita juga harus bekerja keras bagaimana menggunakan uang sehemat mungkin. Kurang lebih inilah alasan saya mengapa mulai hari ini saya memutuskan untuk berpuasa bermedia sosial.

Korleko, 26 Mei 2020

Selasa, 19 Maret 2019

Mengelola Sampah dengan 3M

Saya teringat dengan konsep "memulai kebaikan" yang ditawarkan oleh Aa Gym. Ia menyebutnya 3M (Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal terkecil, dan Mulai dari sekarang). Segala macam kebaikan bisa dimulai dengan metode ini. Wacana besar tanpa dimulai dengan tindakan, sama saja dengan omong kosong. Sekecil apapun tindakannya, jika dilakukan konsisten atau istikomah, maka peluang memperoleh kebaikan yang lebih besar pun akan terbuka lebar.

Dari konsep 3M tersebut saya cukup terinspirasi untuk menyelesaikan permasalahan sampah yang tak berkesudahan. Untuk tau bagaimana pelik nya masalah sampah ini tak perlu repot searching di google. Di sekitar kita pun masalah sampah masih belum bisa tertangani dengan baik. Maka, dengan metode 3M ini menurut saya cukup efektif mengurangi masalah sampah terutama mulai dari sumbernya.

Pertama, Mulai dari diri sendiri. Tidak mungkin orang lain yang kita minta untuk menyelesaikan masalah sampah, sementara kita sendiri belum beres. Masih punya kebiasaan membuang sampah sembarangan. Maka dari itu, dengan memulai dari diri sendiri minimal kita sudah belajar dan memiliki pengalaman dalam mengelola sampah sendiri. Sehingga bisa menginspirasi dan bahkan diikuti oleh orang lain. Sehingga tak perlu banyak ceramah dan pidato, karena ada bukti nyata yang dapat diteladani. Terus terang, saya pun masih belajar mengelola sampah saya sendiri dan keluarga. Tapi syukurnya sudah saya mulai. Dan insyaalloh ke depan akan terus dilakukan. Mulai memilah sampah basah (organik) dan sampah kering (anorganik) menjadi pintu awal pengelolaan sampah. Tanpa itu, maka kita tak akan bisa mengelolanya dengan baik. Intinya, memulai dari diri sendiri dan keluarga tentu sangat penting. Karena sangat tak mungkin orang lain atau tetangga kita yang datang kerumah untuk membersihkan sampah kita sendiri.

Kedua, Mulai dari hal terkecil. Tak mungkin menyelesaikan sampah satu negara tanpa diselesaikan di tingkat provinsi, begitu pula provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa/kelurahan, kekadusan/lingkungan, RT, RW tak akan ada artinya jika tidak dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga. Unit terkecil dari keluarga itu adalah anggota keluarga/ individu. Dan tentu setiap orang adalah anggota keluarga/indivudu yang seharusnya memulai menyelesaikan masalah sampahnya sendiri. Jika saja semua individu di negara kita Indonesia ini sadar dan mau mengelola sampahnya sendiri mungkin tak ada lagi masalah sampah di negeri ini.

Ketiga, Mulai dari sekarang. Tak perlu menunggu lama. Tak perlu alasan macam-macam. Kita semua pasti bisa melakukannya. Hanya saja kita lebih senang membuat alasan-alasan ketimbang tindakan nyata. Kita lebih senang nyinyir dari pada berbuat untuk memulai dan mengawal perubahan. Maka kebaikan apapun, termasuk mengelola sampah sendiri harus dimulai saat ini. Tanpa ditawar-tawar lagi. Pepatah bijak mengatakan "tak perlu menjadi ahli untuk memulai, tapi memulailah maka kau akan menjadi ahli".

Semua yang saya uraikan dalam tulisan ini tentu tak akan menjadi apa-apa jika tidak ditindak lanjuti. Ini karena kembali kepada diri kita masing-masing. Pilihan nya ada pada diri kita masing-masing. Ingat, setiap pilihan itu disertai dengan resikonya masing-masing. Bahkan tidak memilih pun adalah pilihan, dan itu juga mengandung resiko.

Wassalam.
Korleko, 20 Maret 2019
--HH



Senin, 11 Maret 2019

Fokus Pada Keterampilan Menulis

Beberapa hari yang lalu saya memberikan tugas kepada mahasiswa saya. Tugas mereka sebenarnya mudah saja, yakni membuat akun blogspot. Tujuan saya memberikan tugas ini tak lain hanya ingin mengasah keterampilan menulis mereka. Nantinya tugas perkuliahan juga akan diposting melalui blog masing-masing. Sehingga saya tak perlu repot memeriksa tugas dalam bentuk print out. Bisa langsung diperiksa di blog mereka. Lebih praktis dan murah. Tidak menguras kantong mereka pula tentunya.

Saat ini baru tujuh orang yang melaporkan bahwa akun blog mereka sudah jadi. Mereka mengirimkan langsung link-nya melalui whatsapp. Saya baca dan langsung berikan komentar. Tak lupa saya apresiasi dan semangati mereka agar terus menulis.

Tugas membuat blog dan mengembangkan konten nya ini saya akan berlakukan di hampir seluruh mata kuliah saya. Jadi setiap mahasiswa yang saya ajar akan memiliki blog. Mereka harus melaporkannya kepada saya. Saya pun mencatat setiap akun blog beserta nama mahasiswa pemiliknya. Saya berkomitmen akan memantau terus siapa yang benar-benar serius mau menulis.

Bisa dibayangkan, baru tujuh mahasiswa yang melaporkan blognya. Berarti ada tujuh cerita yang berbeda. Meskipun menceritakan hal yang sama tentu mereka memiliki sudut pandang yang berbeda. Ini akan menjadi satu hal yang menarik bagi saya.

Saya berusaha mengasah kemampuan menulis mereka tersebab keterampilan menulis adalah satu dari beberapa keterampilan yang harus dimiliki setiap orang di abad 21 ini. Karena dengan menulis ada proses berpikir di otak mereka. Dengan menulis pula, mau tidak mau mereka harus membaca. Ini jelas menguntungkan ditengah lemahnya literasi dan gempuran media sosial yang begitu dahsyat.

Saya berencana akan berusaha juga untuk terus menulis. Membersamai mereka. Terus memberikan komentar positif, mengapresiasi dan memotivasi mereka. Saya punya keyakinan, mereka akan menjadi orang-orang yang akan dilihat rekam jejaknya kelak melalui tulisannya. Salah satunya melalui blog yang mereka buat hasil dari tugas yang saya berikan.

Keterampilan menulis menurut saya sangat penting. Bayangkan di era digital seperti saat ini. Sebagian besar pekerjaan membutuhkan keterampilan ini. Jangankan jurnalistik dan bidang sastra. Bidang-bidang lain pun tak luput dari kebutuhan keterampilan menulis. Menjadi pengusaha tentu membutuhkan iklan produk, salah satunya adalah iklan tertulis. Profesi guru, Aktivis, bahkan pedagang pecel pun memerlukan keterampilan menulis. Dan tak dapat lagi disebutkan begitu banyak profesi yang membutuhkan keterampilan menulis. Lantas kita masih enggan untuk berlatih menulis? Menurut saya sangat merugi.

Ada kata -kata mutiara yang selalu saya ingat dari Pramudia Anantatoer, seorang penulis besar negri ini. Ia berkata, "menulislah, karena menulis adalah bekerja untuk keabadian". Artinya peninggalan yang paling berkenungkinan besar membuat kita terus diingat dan "abadi".

Saya berharap kegiatan ini dapat bermanfaat bagi mereka. Sekaligus mereka juga dapat menebarkan banyak manfaat baik secara lisan maupun tulisan.

Korleko, 12 Maret 2019

Rabu, 06 Maret 2019

Hentikan saling caci maki dan fitnah

Begitu banyak perdebatan. Caci maki, bully dan berita bohong. Tidak hanya datang dari satu kubu tapi bisa dipastikan berasal dari ke dua kubu. Tetutama para pendukung lapis bawah. Tak terlalu sulit untuk melihat dengan gamblang fenomena ini. Cukup ketik kata kunci "cebong" atau "kampret" kita sudah menemukan perdebatan sengit di media sosial.

Saya melihat perdebatan, saling caci maki dan fitnah ini semakin menjadi-jadi menjelang hari pemilihan presiden dan wakil presiden tanggal 17 April 2019. Baik kubu Prabowo-Sandi maupun Jokowi-Amin masing-masing menyerang sambil menanjung capres cawapres pilihan mereka.

Nuansa yang cukup terasa adalah mencuatnya isu perbandingan ulama di masing-masing kubu. Ulama di kubu Jokowi-Amin dipersepsikan dengan (maaf) sebagai ulama "penjilat" penguasa. Sementara ulama di kubu Prabowo-Sandi dipersepsikan "doyan" menghujat dan "radikal". Saya merasa situasi ini jelas tidak positif bagi persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa. Bagaimana mungkin ulama yang seharusnya kita dengar fatwanya, kita teladani tingkah lakunya justru ditempatkan pada posisi yang sangat hina. Lalu di mana adab kita sebagai manusia, jika ulama sebagai penerus para nabi tidak kita hormati seperti itu.

Sudah saatnya kita dewasa. Saatnya pula kita hentikan perdebatan, caci maki dan fitnah. Saatnya berkompetisi politik yang sehat. Saling rangkul sebagai saudara sebangsa. Tetap bersaudara dalam kebaikan meski berbeda dalam pilihan politik. Bukankah aset terbesar bangsa ini adalah persaudaraan? Saya tidak bisa membayangkan jika bangsa kita yang terdiri dari beragam suku dan agama terpecah belah hanya karena momen yang bernama pilpres. Mari kita renungkan bersama.

Korleko, 6 Maret 2019
--HH

Sabtu, 24 November 2018

Catatan Pengajian Maulid Nabi 1440 H

Pada tanggal 12 Rabiul Awal 1440 H di Masjid Miftahul Jannah Desa Korleko berlangsung peringatan maulid Nabi Besar Muhammad SAW. Peringatan tersebut diisi dengan kegiatan pengajian. Doktor Tuan Guru Haji Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc, MA hadir sebagai penceramah yang kemudian menguraikan hikmah dan hal penting seputar kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam kesempatan tersebut beliau menyampaikan beberapa hal penting antara lain tentang pentingnya mensyukuri kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW mengingat kelahiran beliau adalah anugerah sekaligus nikmat terbesar yang diberikan Allah SWT. Selain itu diuraikan pula keuntungan pahala bagi yang merayakan dan mengagungkan maulid Nabi Besar Muhammad SAW, terutama bagi yang menyiapkan acara, penyedia makanan, tamu pengajian, berkah makanan, dan sebagainya.

Hari ini, tepatnya hari Ahad, 17 Rabiul Awal 1440 Hijriah bertepatan dengan tanggal 25 November 2018 acara peringatan maulid kembali dirayakan. Kali ini dilaksanakan di Masjid Jami' Assholeh Desa Korleko. Ada beberapa rangkaian kegiatan yang dilakukan sebwlum acara pengajian tiba. Di antaranya acara khitanan masal dan juga cukuran masal. Ada hal yang menurut saya cukup menarik pada kegiatan sunatan masal dan cukuran masal ini. Jika khitanan masal dihajatkan bagi anak laki-laki yang belum dikhitan, maka cukuran dihajatkan bagi bayi yang baru lahir. Mungkin dalam tinjauan agama banyak diuraikan melalui dasar hadits nabi yang memerintahkan kita untuk mengakikah bayi yang baru lahir dengan menyembelih kambing, memberi nama dan mencukur. Namun, saya hanya ingin mencoba memandang dari perspektif yang berbeda. Misalnya dari segi aspek ekonomi, dengan adanya kegiatan khitanan dan cukuran masal yang diselenggarakan oleh pengurus masjid ini maka sedikit tidak cukup meringankan beban biaya bagi masyarakat kurang mampu. Karena pada umumnya, jika cukuran dan khitanan dilaksanakan secara mandiri oleh setiap masyarakat yang berhajat tentu mereka harus siap mengeluarkan biaya. Padahal kondisi ekonomi masyarakat tidak semuanya mampu. Inilah berkahnya berjamaah. Untuk biaya tenaga medis yang mengkhitan (sunat) misalnya, biayanya bisa ditanggulangi secara bersama, sehingga lebih hemat. Biaya untuk konsumsi (Snack dan makan siang) bisa ditanggulangi bersama dengan membawa dulang (Baki) berisi snack maupun makan siang yang sebelumnya diberikan kupon. Hanya saja penyembelihan hewan akikah tetap harus dilaksanakan secara mandiri bagi setiap anggota masyarakat. Akan tetapi setidaknya dengan melaksanakan secara masal, berjamaah atau bersama-sama beban biaya akam terasa lebih ringan. Selain itu, nuansa silaturrahmi juga terasa lebih kental. Ini disebabkan banyaknya masyarakat yang hadir di acara ini. Selain itu, budaya gotong royong juga lebih terasa.

Korleko, 25 November 2018

Minggu, 12 Agustus 2018

Suasana Mencekam di Lombok Pasca Gempa

Gempa yang terjadi berulang-ulang membuat kepanikan dan keresahan tersendiri bagi masyarakat Palau Lombok. Bagaimana tidak, gempabumi berkekuatan 6,4 Skala Richter pada hari Ahad, 29 Juli 2018 menghentak dan mengejutkan masyarakat Lombok. Korban meninggal mulai berjatuhan, rumah-rumah warga mengalami kerusakan, bahkan tak sedikit yang rusak total. Suara tangis silih berganti terdengar. Sirine mobil Ambulance seolah mengiringi tangis pilu para korban.

Tak cukup sampai di situ. Gempa susulan terus tetjadi. Bahkan kekuatannya melebihi gempa pertama. Ahad malam, 5 Agustus 2018 sekitar pukul 19.30 wita, gempa kembali mengguncang dengan kekuatan 7.0 SR dengan lokasi terparah berada di Kabupaten Lombok Utara. Ratusan korban meninggal dunia, disertai dengan ribuan korban luka. Tak hanya itu, gempa susulan terus terjadi. Pasca gempa utama (7SR) terjadi, tercatat gempa dengan kekuatan 6,2 Skala Richter. Hal ini menambah kerusakan dan korban jiwa di wilayah Kota Mataram dan sekitarnya.

Suasana semakin mencekam dengan merebaknya berbagai isu negatif. Ada isu akan terjadinya tsunami, gempa susulan yang lebih besar dan dahsyat, isu pencuri dan perampok, serta berbagai informasi tak jelas yang justru menambah suasana panik dan keresahan bagi masyarakat. Tetutama informasi yang tersebar cepat malalui media sosial.

Hampir di setiap rumah warga dipsang tenda-tenda darurat dari terpal dan bahan seadanya. Seolah tak ada bedanya antara masyarakat terkena dampak gempa dengan masyarakat tak terdampak. Mereka sama-sama merasakan kekhawatiran yang tinggi. Mereka dihantui oleh bayang-bayang akan terjadinya gempa susulan dengan kekuatan yang lebih besar. Sehingga merelakan diri tidur di bawah tenda darurat ketika malam tiba.

Doa-doa terus dipanjatkan. Hampir setiap masjid tak pernah sepi dari kegiatan istigosah, zikir dan doa bersama. Tak lain hanya untuk menenangkan diri, manjauhkan kekhawatiran dan keresahan serta tentunya sebagai harapan agar bencana gempa ini cepat berakhir dan kehidupan normal kembali seperti sedia kala.

Korleko, 12 Agustus 2018
Di bawah tenda darurat. Ditemani angin malam dan taburan bintang-bintang.
-HH